kerajaan turki utsmani

Kerajaan Turki Utsmani

  1. Asal usul bangsa Turki

Diwilayah yang disebut dengan Turkistan yang terentang dari daratan tinggi Mongolia dan Cina Utara di bagian wilayah Timur laut hingga Laut Qazwin di sebelah Barat, dan dari lembah Siberia disebelah Utara hingga anak benua India dan Persia disebelah Selatan berdiamlah suku Al-Ghizz dan kabilah kabilah lainnya yang besar. Mereka dikenal dengan sebutan Turk

Sebagian para sejarawan mencatat bahwa kabilah ini melakukan imigrasi kewilayah Asia Tengah. Faktor yang menyebabkan terjadinya imigrasi ini ialah faktor politik, mengingat karena kabilah ini mendapat ancaman dari beberapa kabilah yang besar lainnya yang lebih kuat yang tak lain adalah kabilah Mongolia.

Kabilah migrant ini terpaksa pindahb kewilayah barat dan berhenti dipinggiran sungai Jaihun, kemudian untuk beberapa lama tinggal di Thibristan dan Jurjan. Dengan demikian mereka dekat dengan wilayah kekuasaan Islam yang sebelumnya ditaklukkan oleh kaum muslim, setelah peperangan Nahawand dan setelah jatuhnya pemerintahan Sasanid di Persia tahun 21 H./641 M.

Pada tahun 22 H./642 M., tentara islam bergerak kewilayah barat untuk menaklukannya. Wilayah tersebut ialah wilayah dimana orang Turki tinggal. Disanalah komandan islam yang bernama Abdurrahman Bin Rabi’ah yang bertemu dengan raja Turki yang bernama Syahr Baraz. Ia meminta kepada umat islam untuk berdamai dan bersama sama memerangi Armenia yang masih dikuasai oleh orang orang Persia, dan permintaan itu disetujui oleh khalifah Umar Bin Khatab yang menjadi khalifah pada saat itu. Dan pada akhirnya peperangan dimenangkan oleh umat islam dan orang Turki, maka terjadilah interaksi dan banyak orang Turki yang memeluk agama Islam.

Pada masa khalifah Utsman Bin Affan, negeri Thibristan ditaklukan dan berhasil menyeberangi sungai Jaihun pada tahun 31 H. mereka berhenti didaerah Turkistan. Maka masuklah beberapa pembesar Turki kedalam agama Islam. Pada masa Muawiyah Bin Abi Sofyan berhasil membuka Bukhara.

Pada masa dinasti Abbasiyah orang orang Turki mulai mendapat kedudukan yang penting dalam pemerintahan, seperti pada bidang administrasi dan kemiliteran. Pada masa Al-Mu’tashim dia membuka pintu yang lebar untuk orang Turki menyebarkan pengaruhnya. Demikian orang Turki memulai sejarahnya sampai mereka berhasil membentuk kerajaan Saljuk.

  1. Terbentuknya Khilafah Utsmaniyah

1) Asal usul khilafah Utsmaniyah

Garis keturunan bani Utsmani bersambung pada kabilah Turkmaniyah, yang pada permulaan abad ketujuh Hijriah atau bertepatan pada abad ketiga belas Masehi, mendiami Kurdistan. Sulaiman, kakek dari Utsman melakukan hijrah pada tahun 617 H./1220 M. mereka beranjak menuju Anatolia. Dan mereka menetap didaerah Akhlath. Dikarenakan adanya serangan dari bangsa Mongol yang dipimpin oleh Jenghis Khan.

Sulaiman meninggal pada tahun 628 H./1230 M. dan dia digantikan oleh putranya yang bernama Urthughril yang terus bergerak hingga mencapai barat laut Anatolia. Tatkala ia terus bergerak yang hanya berjumlah seratus kepala keluarga yang dikawal empat ratus penunggang kuda, ia melihat terjadinya peperangan antara kaum muslim dengan umat Kristen dan ia membantu pasukan muslim memenangi peperangan tersebut.

Seusai peperangan, komandan pasukan Saljuk memberikan penghargaan kepada Urthughril atas jasanya yaitu sebidang tanah didaerah perbatasab Anatolia dekat perbatasan Romawi, dan pada akhirnya hubungan diplomatik pun terjalin antara Saljuk dan kaum yang dipimpin oleh Urthughril hingga ia wafat pada tahun 699 H./1299 M. setelah meninggal ia digantikan oleh anaknya yang bernama Utsman.

2) Kelahiran Khilafah Utsmaniyah

Kesultanan Utsmaniyah (1299–1923 M), atau dikenal juga dengan sebutan Kekaisaran Turki Ottoman, Negara ini didirikan oleh Bani Utsman, yang selama lebih dari enam abad kekuasaannya dipimpin oleh 36 orang sultan sebelum akhirnya runtuh dan terpecah menjadi beberapa negara kecil.

Kesultanan ini menjadi pusat interaksi antar Barat dan Timur selama enam abad. Pada puncak kekuasaannya, Kesultanan Utsmaniyah terbagi menjadi 29 propinsi. Dengan Konstantinopel (sekarang Istambul) sebagai ibukotanya, kesultanan ini dianggap sebagai penerus dari kerajaan-kerajaan sebelumnya, seperti Kekaisaran Romawi dan Bizantium. Pada abad ke-16 dan ke-17, Kesultanan Usmaniyah menjadi salah satu kekuatan utama dunia dengan angkatan lautnya yang kuat.

Utsman (1300 M) kemudian memperluas wilayahnya sampai ke batas wilayah kekaisaran Byzantium. Beliau memindahkan ibukota kesultanan ke Burshah. Bursah merupakan suatu daerah perbatasan yang sangat dekat dengan jantung kota konstantinopel yang hanya dibatasi oleh suatu selat yang kecil dan merupakan jalur penghubung dengan kota konstantinopel. Utsman disukai sebagai pemimpin yang kuat dan dinamik bahkan lama setelah beliau meninggal dunia, sebagai buktinya terdapat istilah di Bahasa Turki “Semoga dia sebaik Utsman”. Reputasi beliau menjadi lebih harum juga disebabkan oleh adanya cerita lama dari abad pertengahan Turki yang dikenal dengan nama Mimpi Utsman, sebuah mitos yang mana Utsman diinspirasikan untuk menaklukkan berbagai wilayah yang menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah.

Pada periode ini terlihat terbentuknya pemerintahan formal Utsmaniyah, yang bentuk institusi tersebut tidak berubah selama empat abad. Pemerintahan Utsmaniyah mengembangkan suatu sistem yang dikenal dengan nama Millet (berasal dari Bahasa Arab millah ملة), yang mana kelompok agama dan suku minoritas dapat mengurus masalah mereka sendiri tanpa intervensi dan kontrol yang banyak dari pemerintah pusat.

Setelah Utsman meninggal, kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah kemudian merambah sampai ke bagian Timur Mediterania dan Balkan. Setelah kekalahan di Pertempuran Plocnik, kemenangan kesultanan Utsmaniyah di Perang Kosovo secara efektif mengakhiri kekuasaan Kerajaan Serbia di wilayah tersebut dan memberikan jalan bagi Kesultanan Utsmaniyah menyebarkan kekuasaannya ke Eropa. Kesultanan ini kemudian mengontrol hampir seluruh wilayah kekuasaan Bizanthyum terdahulu. Wilayah Kekaisaran Bizantium di Yunani luput dari kekuasaan kesultanan berkat serangan Timur Lenk (komandan pasukan Mongol saat itu) ke Anatolia tahun 1402, menjadikan Sultan Bayazid 1 (w.1403 M) sebagai tahanan.

Sepeninggal Timur Lenk (w. 1405 M), Muhammad II melakukan perombakan struktur kesultanan dan militer, dan menunjukkan keberhasilannya dengan menaklukkan Kota Konstantinopel pada tanggal 29 Mei 1435 pada usia 21 tahun. Kota tersebut menjadi ibukota baru Kesultanan Utsmaniyah. Sebelum Muhammad II wafat, pasukan Utsmaniyah berhasil menaklukkan Korsika, Sardinia, dan Sisilia. Namun sepeninggalnya, rencana untuk menaklukkan Italia dibatalkan.

3) Perluasan Wilayah dan Puncak Kekuasaan (1453–1566 M)

Penaklukkan Konstantinopel oleh Kesultanan Utsmaniyah pada tahun 1435 mengukuhkan status kesultanan tersebut sebagai kekuatan besar di Eropa Tenggara dan Mediterania Timur. Pada masa ini Kesultanan Utsmaniyah memasuki periode penaklukkan dan perluasan wilayah, memperluas wilayahnya sampai ke Eropa dan Afrika Utara, di bidang kelautan, angkatan laut Utsmaniyah mengukuhkan kesultanan sebagai kekuatan dagang yang kuat. Perekonomian kesultanan juga mengalami kemajuan berkat kontrol wilayah jalur perdagangan antara Eropa dan Asia.

Kesultanan ini memasuki jaman kejayaannya di bawah beberapa sultan. Sultan Salim I (1512 -1520) secara dramatis memperluas batas wilayah kesultanan dengan mengalahkan Shah Dinasti Safawid dari Persia, Ismail I, di Perang Chaldiran. Salim I juga memperluas kekuasaan sampai ke Mesir dan berhasil mengalahkan kerajaan Mamluk pada peperangan di Marj Dabiq tahun 1517 M. dan menempatkan keberadaan kapal-kapal kesultanan di Laut Merah.

Pewaris takhta Salim, Sulaiman yang Agung (1520-1560 M) melanjutkan ekspansi Salim. Setelah menaklukkan Beograd tahun 1521, Sulaiman menaklukkan Kerajaan Hongaria dan beberapa wilayah di Eropa Tengah. Beliau kemudian melakukan serangan ke Kota Wina tahun 1529, namun gagal menaklukkan kota tersebut setelah musim dingin yang lebih awal memaksa pasukannya untuk mundur. Di sebelah timur, Kesultanan Utsmaniyah berhasil menaklukkan Baghdad dari Persia tahun 1535, mendapatkan kontrol wilayah Mesopotamia dan Teluk Persia.

Di bawah pemerintahan Salim dan Sulaiman, angkatan laut Kesultanan Utsmaniyah menjadi kekuatan dominan, mengontrol sebagian besar Laut Mediterania. Beberapa kemenangan besar lainnya meliputi penaklukkan Tunis dan Aljazair dari Spanyol; Evakuasi umat Muslim dan Yahudi dari Spanyol ke wilayah Kesultanan Utsmaniyah sewaktu inkuisisi Spanyol, dan penaklukkan Nice dari Kekaisaran Suci Romawi tahun 1543 M. Penaklukkan terakhir terjadi atas nama Prancis sebagai pasukan gabungan dengan Raja Prancis Francis I dan Barbarossa. Prancis dan Kesultanan Utsmaniyah, bersatu berdasarkan kepentingan bersama atas kekuasaan Habsburg di selatan dan tengah Eropa, menjadi sekutu yang kuat pada masa periode ini. Selain kerjasama militer, kerjasama ekonomi juga terjadi antar Prancis dan Kesultanan Utsmaniyah. Sultan memberikan Prancis hak untuk melakukan dagang dengan kesultanan tanpa dikenai pajak. Pada saat itu, Kesultanan Utsmaniyah dianggap sebagai bagian dari politik Eropa, dan bersekutu dengan Prancis, Inggris, dan Belanda melawan Habsburg Spanyol, Italia, dan Habsburg Austria.

Kemajuan yang diperoleh oleh Turki Utsmani dan perkembangannya yang demikian luas dan berlangsung dengan cepat. Diantaranya :

1) Bidang Militer

Kerajaan Turki Utsmani berdiri berkat ketangguhan militernya.ketangguhan angkatan bersenjata kerajaan Turki Utsmani disebabkan oleh ketepatan strategi dan pembinaan yang diciptakan oleh para sultan serta didukung oleh watak dasar orang Turki itu sendiri yang bersifat militer, disiplin, dan patuh terhadap peraturan. Angkatan perang Turki Utsmani menjadi lebih kuat lagi pada waktu mereka menguasai teknologi persenjataan modern seperti senjata api, meriam dan sejenisnya

Pembaharuan dalam tubuh organisasi militer oleh Orkhan tidak hanya dalam bentuk mutasi personal pimpinan, tetapi juga diadakan perombakan dalam keanggotaan. Bangsa bangsa non Turki dimasukan sebagai anggota, bahkan anak anak Kristen yang masih kecil diasramakan dan dibimbing dalam suasana islam untuk dijadikan prajurit. Progaram ini ternyata berhasil dengan terbentuknya kelompok militer baru yang disebut pasukan Jenissari atau Inkisyariah. Pasukan inilah yang dapat mengubah negara Utsmani menjadi mesin perang yang kuat dan memberikan dorongan yang amat besar dalam melakukan penaklukan terhadap negara negara non Muslim.

2) Bidang Politik Dan Pemerintahan

Dalam struktur pemerintahan, sultan sebagai penguasa tertinggi dibantu oleh shadr al-a’zham (perdana menteri), yang membawahi pasya (gubernur). Gubernur mengepalai daerah tingkat I. dibawahnya terdapat beberapa orang al-zanaziq atau al-‘alawiyah (bupati).

Untuk mengatur urusan pemerintahan negara, masa sultan Sulaiman I, disusun sebuah kitab undang-undang (Qanun). Kitab tersebut diberi nama Multaqa Al-Abhur, yang menjadi pegangan hukum kerajaan Turki Utsmani sampai datangnya reformasi pada abad ke-19. karena jasa sultan Sulaiman I yang amat berharga ini, diujung namanya ditambah gelar Al-qanuni.

3) Bidang Ilmu Pengetahuan dan Budaya

Sebagai bangsa yang berdarah militer, Turki Utsmani banyak memfokuskan kegiatan mereka dalam bidang kemiliteran, sedangkan dalam bidang pengetahuan mereka kelihatan tidak begitu menonjol. Karena itulah, dalam bidang khazanah intelektual islam kita tidak menemukan ilmuan yang terkemuka dari kerajaan Turki Utsmani. Namun demikian, mereka banyak berkiprah dalam perkembangan seni arsitektur islam berupa bangunan-bangunan mesjid yang indah seperti Mesjid Al Muhammadi, atau Mesjid jami’ sultan Muhammad al Fatih serta masih banyak lagi bangunan Mesjid yang lain, Mesjid tersebut dihiasi pula oleh kaligafi yang indah. Salah satu mesjid yang terkenal dengan keindahan kaligrafinya adalah Mesjid yang asalnya Gereja Aya Sopia.

Ada beberapa hal yang menyebabkan tidak majunya ilmu pengetahuan pada masa tersebut sebagai berikut:

a. Para ulama dikerajaan turki tidak menaruh perhatian terhadap ilmu pengetahuan baru, bahkan mereka menolak segala pemikiran yang baru yang masuk kedalam wilayah mereka

b. Cara berpikir saat itu ialah cara berpikir tradisional

c. Terjadinya berbagai penyimpangan akidah melalui organisasi tarekat di dunia islam.

d. Berkurangnya peranan bahasa arab sebagai bahasa persatuan

4) Bidang Ekonomi

Ekspansi yang dilakukan kerajaan Turki Utsmani mendatangkan pemasukan negara berupa ekonomi dan sebaliknya gerakan ekspansi dan pembinaan kekuatan militer, luasnya wilayah membantu pemasukan perekonomian kerajaan baik dari harta rampasan perang, embayaran pajak tanah dan juga dari hasil garapan tanah.

5) Bidang Keagamaan

Agama dalam tradisi masyarakat Turki mempunyai peranan yang besar dalam lapangan sosial dan politik, masyarakat digolongkan berdasarkan agama dan kerajaan sangat terikat dengan syariat sehingga fatwa ulama menjadi hukum yang berlaku. Oleh karena itu ulama mempunyai tempat tersendiri dan nerperan besar dalam kerajaan dan masyarakat. Mufti, sebagai pejabat urusan agama tertinggi berwenang memberi fatwa resmi terhadap problema agama yang dihadapi masyarakat.

  1. Faktor pendukung kemajuan Turki Utsmani

1. Faktor Intern

a. Mereka adalah bangsa yag mempunyai semangat juang yang tinggi, berjiwa besar dan berpandangan luas serta diliputi oleh perang Salib

b. Mereka memiliki angkatan perang yang tangguh dan mampu meluaskan kekuasaan Islam dibidang spritual, maupun menanggulangi musuh-musuh dunia islam dan mampu memimpin dunia.

c. Adanya kematangan stabilitas dalam negeri

d. Adanya sifat Tasamuh (toleransi) yang diajarkan agama islam.

e. adanya pengaruh yang besar para ulama dalam tradisi masyarakat Turki pada lapangan sosial

2. Faktor Ekstern

a. Kemunduran Eropa ketika Turki Utsmani mengalami kejayaan

b. Mereka memeluk Islam dengan penuh kesadaran

D. Beberapa masalah yang dihadapi oleh Turki Utsmani

Sepeninggal Sulaiman tahun 1566, beberapa wilayah kekuasaan kesultanan mulai menghilang. Kebangkitan kerajaan-kerajaan Eropa di barat beserta dengan penemuan jalur alternatif Eropa ke Asia melemahkan perekonomian Kesulatanan Utsmaniyah. Efektifitas militer dan struktur birokrasi warisan berabad-abad juga menjadi kelemahan dibawah pemerintahan Sultan yang lemah. Walaupun begitu, kesultanan ini tetap menjadi kekuatan ekspansi yang besar sampai kejadian Pertempuran Wina tahun 1683 M yang menandakan berakhirnya usaha ekspansi Kesultanan Utsmaniyah ke Eropa.

Kerajaan-kerajaan Eropa berusaha mengatasi kontrol monopoli jalur perdagangan ke Asia oleh Kesultanan Utmaniyah dengan menemukan jalur alternatif. Secara ekonomi, pemasukan Spanyol dari benua baru memberikan pengaruh pada devaluasi mata uang Kesultanan Utsmaniyah dan mengakibatkan inflasi yang tinggi. Hal ini memberikan efek negatif terhadap semua lapisan masyarakat Utsmaniyah.

Di Eropa Selatan, sebuah koalisi antar kekuatan dagang Eropa di Semenanjung Italia berusaha untuk mengurangi kekuatan Kesultanan Utsmaniyah di Laut Mediterania. Kemenangan koalisi tersebut di Pertempuran Lepanto (sebetulnya Navpaktos,tapi semua orang menjadi salah mengeja menjadi Lepanto) tahun 1571 M mengakhiri supremasi kesultanan di Mediterania. Pada akhir abad ke-16, masa keemasan yang ditandai dengan penaklukan dan perluasan wilayah berakhir.

Di medan perang, Kesultanan Utsmaniyah secara perlahan-lahan tertinggal dengan teknologi militer orang Eropa dimana inovasi yang sebelumnya menjadikan faktor kekuatan militer kesultanan terhalang oleh konservatisme agama yang mulai berkembang.

Pemberontakan Jelali (1519-1610 M) dan Pemberontakan Yenisaris (1622 M) mengakibatkan ketidakpastian hukum dan pemberontakan di Anatolia akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, dan berhasil menggulingkan beberapa pemerintahan. Namun, abad ke-17 bukan hanya masa stagnasi dan kemunduran, tetapi juga merupakan masa kunci di mana kesultanan Utsmaniyah dan strukturnya mulai beradaptasi terhadap tekanan baru dan realitas yang baru, internal maupun eksternal.

E. Keruntuhan Kerajaan Turki Utsmani

Ada beberapa faktor yang menyebabkan keruntuhan Utsmani diantaranya:

a. Wilayah kekuasaan yang sangat luas

b. Keberagaman penduduk

c. Kelemahan para penguasa

d. Budaya pungli (sogokan) dalam meraih jabatan

e. Pemberontakan pemberontakan dalam negeri

f. Kemerosotan ekonomi

Menurut penelitian sejarah yang menyebabkan keruntuhan turki utsmani ini ialah karena adanya permainan orang Yahudi dan Kristen yang secara jelas ialah Inggris. Mereka melihat bahwa Turki Utsmani akan bisa dihancurkan oleh orang Turki itu sendiri. Oleh karena itu mereka melihat Mustafa Kemal Attaturk yang bisa melakukannya, mereka menjalin hubungan secara rahasia dengan Attaturk melalui seorang intelejen inggris yang bernama Amstrong yang pada saat itu dekat dengannya saat ia menjadi komandan perang Utsmani saat itu. Sejak tahun 1920, Mustafa Kemal Attaturk menjadikan Ankara sebagai pusat aktivitas politiknya. Setelah menguasai Istambul, Inggris menciptakan kevakuman politik, dengan menawan banyak pejabat negara dan menutup kantor-kantor dengan paksa sehingga bantuan kholifah dan pemerintahannya mandeg. Instabilitas terjadi di dalam negeri, sementara opini umum menyudutkan kholifah dan memihak kaum nasionalis. Situasi ini dimanfaatkan Mustafa Kemal attaturk untuk membentuk Dewan Perwakilan Nasional – dan ia menobatkan diri sebagai ketuanya – sehingga ada 2 pemerintahan, pemerintahan khilafah di Istambul dan pemerintahan Dewan Perwakilan Nasional di Ankara. Walau kedudukannya tambah kuat, Mustafa Kemal Attaturk tetap tak berani membubarkan khilafah. Dewan Perwakilan Nasional hanya mengusulkan konsep yang memisahkan khilafah dengan pemerintahan. Namun, setelah perdebatan panjang di Dewan Perwakilan Nasional, konsep ini ditolak. Pengusulnyapun mencari alasan membubarkan Dewan Perwakilan Nasional dengan melibatkannya dalam berbagai kasus pertumpahan darah. Setelah memuncaknya krisis, Dewan Perwakilan Nasional ini diusulkan agar mengangkat Mustafa Kemal Attaturk sebagai ketua parlemen, yang diharap bisa menyelesaikan kondisi kritis ini.

Setelah resmi dipilih jadi ketua parlemen, Attaturk mengumumkan kebijakannya, yaitu mengubah sistem khilafah dengan republik yang dipimpin seorang presiden yang dipilih lewat Pemilu. Tanggal 29 November 1923, ia dipilih parlemen sebagai presiden pertama Turki. Namun ambisinya untuk membubarkan khilafah yang telah terkorupsi terintangi. Ia dianggap murtad, dan rakyat mendukung Sultan Abdul Majid II, serta berusaha mengembalikan kekuasaannya. Ancaman ini tak menyurutkan langkah Mustafa Kemal attaturk. Malahan, ia menyerang balik dengan taktik politik dan pemikirannya yang menyebut bahwa penentang sistem republik ialah pengkhianat bangsa dan ia melakukan teror untuk mempertahankan sistem pemerintahannya. Kholifah digambarkan sebagai sekutu asing yang harus dienyahkan.

Setelah suasana negara kondusif, Mustafa Kemal Attaturk mengadakan sidang Dewan Perwakilan Nasional. Tepat 3 Maret 1924 M, ia memecat kholifah, membubarkan sistem khilafah, dan menghapuskan sistem Islam dari negara. Hal ini dianggap sebagai titik klimaks revolusi Mustafa Kemal Attaturk.

Demikianlah proses runtuhnya kekuasaan Turki Utsmani. Pada masa selanjutnya, diperiode modern bangsa-bangsa eropa tidak segan-segan untuk menjajah bekas kekuasaan Turki Utsmani terutama di timur tengah dan afrika utara.

Daftar putaka

Ash-shalabi, ali Muhammad, Bangkit Dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2004

Harun, Maidir dan Firdaus, Sejarah Peradaban Islam, Padang: IAIN-IB Press, 2002

Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik , Jakarta Timur: Prenada Media, 2004

Yatim, badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004

http://id.wikipedia.org


Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kalender

    • Desember 2008
      S S R K J S M
           
      1234567
      891011121314
      15161718192021
      22232425262728
      293031  
  • Cari