KAJIAN NASKAH DALAM SASTRA DAN AGAMA

KAJIAN NASKAH DALAM SASTRA DAN AGAMA

1. Kajian Naskah Sebagai Media Sosialisasi

Kajian naskah diindonesia mempunyai suatu daya tarik tersendiri karena dalam naskah tersebut banyak sekali ditemukan hal- hal yang berhubungan dengan karya sastra maupun menyangkut masalah agama. Dindonesia sendiri, kajian naskah memang belum mendapat perhatian hal itu dibuktikan oleh masih bnyaknya naskah-naskah yang belum tersentuh oleh tangan para ahli.

Naskah-naskah lama di Indonesia menyimpan sejumlah informasi masa lampau mengenai berbagai segi kehidupan. Di antara yang belum banyak mendapat sentuhan penelitian adalah naskah-naskah lama penyimpan ajaran agama, khususnya ajar an agama Islam. Naskah-naskah tersebut pada saat ini sedang menunggu perhatian untuk diteliti

Naskah yang ditulis dengan tangan atau bahasa ilmiahnya disebut sebagai manuscrip merupakan suatu sumber yang sangat akurat dan terpercaya dalam menceritakan suatu keadaan yang terjadi pada masa tertentu dan pada daerah tertentu tempat naskah itu ditulis. Naskah kuno merupakan suatu peninggalan budaya nasional yanng beriskan ide, pemikiran, adat istiadat maupun suatu karya sastra yang berasal dari masa lampau yang dituangkan kedalam bentuk tulisan tangan.

Tradisi penulisan berbagai dokumen dan informasi dalam bentuk manuskrip tampaknya pernah terjadi secara besar-besaran di Indonesia pada masa lalu, terutama jika dilihat dari melimpahnya jumlah naskah yang dijumpai sekarang, baik yang ditulis dalam bahasa asing seperti Arab dan Belanda, atau dalam bahasa-bahasa daerah seperti Melayu, Jawa, Sunda, Aceh, Bali, Madura, Batak, dll. Hal tersebut tampaknya mudah dipahami, terutama jika dikaitkan dengan belum dikenalnya alat pencetakan secara luas hingga abad ke-19, khususnya di wilayah Melayu-Nusantara.

Oleh karenanya, tidak mengherankan jika saat ini kita menjumpai bahwa khazanah naskah nusantara hampir tidak terhitung jumlahnya, baik yang berkaitan dengan bidang sastra, filsafat, adat istiadat, dan terutama bidang keagamaan (Islam).

Berdasarkan hasil penelitian menyebutkan bahwa naskah naskah nusantara antara lain tersimpan di Belanda dan di Inggris, selain juga di Malaysia, Afrika Selatan, Sri Lanka, Jerman, Prancis, Rusia, dan di berbagai negeri yang lain. Selain di negara-negara yang sudah diketahui dan dipastikan menyimpan naskah-naskah nusantara tersebut, masih ada lagi beberapa negara yang diasumsikan memiliki koleksi naskah karena pernah mempunyai hubungan sejarah penting dengan Indonesia, seperti Cina, Portugal, India, dan Jepang. Dalam sebuah sumber misalnya, disebutkan bahwa seorang pengembara Cina, I-Tsing, pada tahun 695 M pernah membawa tidak kurang dari 4000 salinan naskah yang diperolehnya ketika selama 4 tahun tinggal di Palembang, Sumatra Selatan.

Pada umunya hal yang menyebabkan terjadi kecenderungan untuk melakukan penyalinan naskah yang dilakukan dengan tujuan untuk menyelamatkan naskah dari kepunahan karenakan faktor usia dan juga untuk komersil. Sering terjadi naskah yang disalin, teksnya sudah rusak sehingga naskah salinan bersifat hipotesis hasil dari rekonstruksi naskah aslinya. Selain itu, penyalin juga merupakan subjek yang kreatif sehingga dapat terjadi penyimpangan dalam teks, adalah perbedaan yang disengaja. Teks salinannya dapat lebih indah dan lebih sesuai dengan selera masyarakat serta kehendak zaman. Kalau begitu, setiap naskah walaupun salinan adalah cerminan zamannya yang patut dinilai tersendiri.

Sebenarnya ada masalah yang lebih serius yang dihadapi oleh para peneliti yaitu masih banyaknya naskah-naskah kuno yang belum terawat dan kebanyakan naskah tersebut barasal dari abad ke 17 dan 18 masehi yang hanya ditulis oleh pengarang dari kertas yang tidak tahan lama. Selain dari faktor fisik juga faktor alam yang kurang mendukung seperti termakan rayap, robek dan juga karena perawatan yang kurang bagus dari sipemilik naskah tersebut

Sebagian orang yang menyimpan naskah kuno hanya mengandalkan perawatan secara apa adanya atau dengan istilah lain perawatan dilakukan secara tradisional. Naskah-naskah tersebut kadang dibiarkan begitu saja terletak dalam gudang yang terhimpit oleh barang yang lebih berat sehingga menyebabkan kertasnya menjadi lapuk, robek, dan akhirnya hilang pula pengetahuan yang tersimpan di dalamnya. Kalaupun ada naskah yang terawat itupun hanya naskah yang dipercaya mengandung kekuatan magis atas gaib.

2. Naskah Islam Dan Sastra Lokal

Sepanjang sejarahnya, terlebih dalam konteks Indonesia, keberadaan naskah-naskah tersebut sama sekali tidak dapat dipisahkan dari tradisi besar Islam yang sejak abad ke-7 sudah mulai merembes masuk ke wilayah Melayu-Nusantara. Dalam hal ini, Islam diyakini membawa tradisi tulis di kalangan masyarakat Melayu-Nusantara, sehingga dalam perkembangannya seperti telah dikemukakan tradisi Islam ini turut mendorong lahirnya sejumlah besar naskah, khususnya naskah-naskah keagamaan.

Teks naskah sastra Islam kebanyakan ditulis dalam bahasa Melayu dan menggunakan huruf Arab Melayu, yang juga disebut huruf Jawi oleh orang jawa. itu, merupakan dokumentasi kehidupan spiritual nenek moyang bangsa Indonesia serta memberikan gambaran yang memadai tentang alam pikiran dan lingkungan hidupnya. Dari pendekatan sosiologi sastra, hal ini merupakan aspek dokumenter sastra. Asumsinya, sastra merupakan cermin dari nilai-nilai budaya yang hidup pada zaman karya itu diciptakan sebagian ahli berpendapat bahwa hal seperti ini merupakan aspek mimesis dalam penciptaan karya sastra. Kenyataan sosial berpengaruh besar dan mengarahkan makna yang terkandung dalam suatu karya sastra.

Suatu karya sastra yang dikenal luas dalam masyarakat berarti pesan moral dalam karya sastra tersebut dipahami dan diterima sebagai bagian dari sistem acuan perilaku warga masyarakat. Hal ini berkaitan dengan fungsi sosial dari karya sastra, yakni permasalahan tentang seberapa jauh nilai-nilai budaya dalam karya sastra berkaitan dengan nilai-nilai budaya yang ada dalam kehidupan sosial suatu masyarakat Hal itu memberikan indikasi bahwa nilai-nilai budaya yang terkandung dalam naskah-naskah sastra Islam banyak diapresiasi oleh khalayak pembacanya dan besar kemungkinannya nilai-nilai budaya yang terkandung dalam naskah tersebut. Hubungan antara karya sastra dengan kenyataan sosial bukanlah hubungan yang searah, sebelah, atau sederhana. Hubungan itu selalu merupakan interaksi yang kompleks dan tak langsung: ditentukan oleh tiga macam saringan kelir atau layar, yakni kelir konvensi bahasa, kelir konvensi sosio-budaya, dan kelir sastra yang menyaring dan menentukan kesan pembaca dan mengarahkan pengamatan dan penafsiran pembaca terhadap kenyataan sosial. Karya sastra dapat membantu manusia dalam menafsirkan kenyataan hidup sehari-hari. Dari aspek inilah, nilai-nilai keagamaan dalam teks sastra Islam dapat berperan menjadi nilai-nilai budaya yang transformatif, yakni nilai-nilai keagamaan itu menjadi kerangka acuan berpikir, bersikap, dan bertindak bagi orang yang membacanya.

Pembuatan naskah-naskah yang ada dinusantara ini mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-16 wsampai pada abad ke-18 masehi, yang menjadi puncaknya ketika di aceh telah menjadi pusat keagamaan dan pusat pembelajaran dan banyak melahirkan ulama-ulama yang meninggalkan karya-karya mereka seperti Hamzah Fansuri, Shamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, dan Abdurrauf Singkel, yang luar biasa produktif dalam menghasilkan naskah, baik untuk kepentingan belajar mengajar maupun untuk kepentingan lainnya.

Tradisi ini kemudian berkembang keberbagai wilayah di indonesia, tidak hanya di aceh tapi juga menyebar keberbagai wilayah di pulau jawa dan sekitarnya. Karena hal tersebut para ahli banya menemukan naskah-naskah yang ada diberbagai wilayah di jawa yang menyimpan berbagai hal baik itu dibidang sastra dan keagamaan serta sejarah, seperti di jawa barat ditemukan naskah tentang babat sunda dan lain-lain.

Dari beberapa telaah awal yang pernah dilakukan, diketahui misalnya adanya sejumlah besar naskah keagamaan di wilayah Buton yang belum terjamah oleh para peneliti, padahal beberapa naskah, misalnya, mengindikasikan adanya keterkaitan dengan warna Islam di wilayah Sumatra. Demikian halnya di Lombok, Nusa Tenggara Barat, di mana kebanyakan naskahnya masih secara tradisional disimpan oleh para Tuan Guru, dan belum bisa diakses oleh khalayak yang lebih luas.

DAFTAR PUSTAKA

1. http://jurnal-humaniora.ugm.ac.id

2. http://naskahkuno.wordpress.com/2007/01/23/khazanah-naskah-naskah-islam-nusantara/

3. http://rezaantonius.multiply.com/journal/item/46

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s