aksara arab dan jawa

AKSARA ARAB MELAYU DAN JAWA (PEGON)

1. Aksara Arab Melayu

a. Pengertian

Aksara Arab-Melayu ialah sistem huruf Arab yang diubah sesuai dengan sistem bunyi dan tata-bahasa bahasa Melayu dan digunakan untuk menuliskan bahasa Melayu. Karena huruf yang tak ada dalam bahasa Arab ditambahkan sesuai dengan penulisan bahasa Melayu seperti huruf ng, ny, dan p dengan tetap memanfaatkan huruf-huruf Arab. Penataan ejaannya pun disesuaikan dengan tata-bahasa bahasa Melayu.

b. Sejarah awal

Tak diperoleh sejarah yang pasti tentang bila mula-mula aksara Arab-Melayu dipergunakan. Akan tetapi, jelas pada kita aksara ini tercipta setelah terjadi pertembungan dunia Melayu dengan agama Islam. Jika tarikh itu yang dijadikan pedoman, paling tidak aksara Arab-Melayu sudah dipergunakan pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15. Kala itu Kerajaan Malaka diislamkan dengan masuk Islamnya Raja Malaka beliau merupakan raja Kerajaan Melaka pertama yang memeluk agama Islam yaitu sekitar 1400 M. Selepas itu, kesusatraan Melayu-Islam berkembang pesat. Kesusastraan Melayu-Islam itu, kemudian, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di nusantara. Sejak itu pula dunia Melayu selalu disandingkan dengan Islam sehingga yang disebut Melayu apabila memiliki tiga ciri:

(1) berbahasa Melayu,

(2) beradat dan berbudaya melayu, dan

(3) beragama Islam.

Penggunaan aksara Arab-Melayu terus berkembang pesat selama berabad-abad untuk berbagai bidang kehidupan yang menggunakan tulisan, tak semata-mata dalam bidang kesusastraan. Pada 1850 Raja Ali Haji membakukan aturan ejaan aksara Arab-Melayu dalam kitabnya Bustanulkatibin, di samping berisi tata-bahasa bahasa Melayu.

Dalam masyarakat Melayu-Indonesia pemakaian ejaan Arab-Melayu baru terhenti utamanya dalam naskah cetakan sampai awal abad ke-20. Peranannya digantikan oleh ejaan yang menggunakan aksara Latin. Penulisan bahasa Melayu dengan aksara Latin dimulai pada tahun 1901 yaitu ketika Ch. A. van Ophuysen dibantu oleh Engku Nawawi gl. St. Makmur dan M. Taib St. Ibrahim menerbitkan Kitab Logat Melajoe, yang merupakan pedoman ejaan Latin resmi pertama untuk bahasa Melayu di Indonesia.[1]

2. Aksara Arab Pegon

  1. Pengertian

Aksara Arab Pegon adalah huruf Arab atau lebih tepat: Huruf Jawi yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa. Kata Pegon konon berasal dari bahasa Jawa pégo yang berarti menyimpang. Sebab bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu yang tidak lazim[2].

Berbeda dengan huruf Jawi atau melayu, yang ditulis gundul, pegon hampir selalu dibubuhi tanda vokal. Jika tidak, maka tidak disebut pegon lagi melainkan gundhul. Bahasa Jawa memiliki kosakata vokal aksara swara yang lebih banyak daripada bahasa Melayu sehingga vokal perlu ditulis untuk menghindari kerancuan.[3]

  1. Sejarah awal

Sebagaimana yang telah dinyatakan bahwa penciptaan tulisan Pegon pada mulanya memang ditujukan untuk kepentingan penyebaran agama Islam di pulau jawa. Namun seiring dengan perkembangan jaman dan kebutuhan, lambat laun tulisan ini juga dimanfaatkan oleh para santri sebagai sarana penyampaian rasa keindahan. Bahkan kemudian bukan saja para santri di persantrren-pesantren yang menggunakannya melainkan juga masyarakat Jawa (yang telah) Islam pada umumnya.

Dari data yang ada diketahui bahwa tulisan Pegon telah berfungsi sebagai sarana menyampaikan bermacam-macam keperluan seperti menulis: teks keagamaan, teks sastra, surat pribadi maupun resmi, mantra, rajah, obat-obatan, dan lan-lain. Di bawah ini adalah beberapa contoh fungsi tulisan Pegon tersebut.

a) Sarana Penulisan Teks Keagamaan

Tulisan Pegon yang digunakan sebagai alat untuk menyebarkan ajaran Islam masih tetap menerapkan beberapa tanda diakritik dan angka yang dikenal dalam penulisan huruf Arab seperti tasdid dan tanwin, umpamanya kata ‘Allah’ tetap ditulis .

Pada umumnya, teks-teks keagamaan Islam yang ditulis dengan tulisan Pegon ada yang menggunakan aksara Pegon gundhul atau gundhil artinya ditulis tanpa harakat (tanda vokal). Hal seperti ini sangat lazim ditemukan pada teks-teks keagamaan yang terdapat di Banten. Menurut Pigeaud (1967: 25-26), hal itu terjadi karena masyarakat Banten sangat menguasai idiom-idiom Islam, sehingga penulisan teks keagamaan dengan huruf Pegon gundhul tidak menjadi masalah.

b) Sarana Penulisan Teks Sastra

Dalam penulisan teks sastra, kedua puluh huruf Pegon dan enam tanda vokal digunakan sepenuhnya, sedangkan tanda-tanda diakrtik seperti yang digunakan dalam teks-teks keagamaan Islam hanya digunakan untuk kata-kata yang mengacu pada teks Arab. Dalam teks-teks sastra, penyimpangan cara penulisan huruf Arab merupakan hal yang lazim dijumpai.

c) Sarana Menulis Surat

Selain untuk menulis teks bernuansa keagamaan dan sastra, tulisan Pegon juga digunakan untuk sarana komunikasi, berupa surat, baik yang bersifat pribadi maupun dokumen resmi kerajaan. Berikut ini adalah sebuah contoh surat pribadi yang ditulis dengan tulisan Pegon. Sepucuk surat yang ditulis oleh Bagus Ngarpatem pada tanggal 23 Ramadhan 1770.

d) Sarana Penulisan teks mantra, rajah, dan lain-lain

Selain untuk menulis ketiga jenis teks di atas, tulisan Pegon juga berfungsi sebagai sarana menulis teks-teks rajah, mantra, primbon atau obat-obatan.Tulisan Pegon yang digunakan untuk menulis teks mantra biasanya hanya huruf-huruf atau kata-kata tertentu saja seperti: Allah, Muhammad, alif dan lamalif yang ditulis dalam berbagai posisi. Akan tetapi, tulisan Pegon yang digunakan untuk menulis teks-teks primbon dan obat-obatan ditulis dengan kalimat-kalimat panjang sedangkan yang digunakan untuk menulis teks mantra atau rajah, umumnya ditulis dalam bentuk kalimat-kalimat pendek. Di bawah ini adalah beberapa contoh fungsi tulisan Pegon yang digunakan untuk menulis teks rajah dan mantra.[4]

3. Tata Cara Penulisan dan bentuk-bentuk penyimpangan

a) Tata cara penulisan

Sebenarnya cara penulisan arab melayu dan arab pegon tidak jauh berbeda yang hanya membedakan mereka hanyalah pemberian tanda vokal

a. Aksara ditulis secara gundul, sering disebut sebagai Arab Gundul.

b. Huruf alif yang berdiri sendiri berbunyi a atau e.

c. Huruf alif yang diikuti wau berbunyi u atau o.

d. Huruf alif yang diikuti ya berbunyi i atau é.

e. Konsonan diikuti huruf alif akan berbunyi fatah (bunyi a).

f. Konsonan diikuti huruf wau akan berbunyi dhomah (bunyi u).

g. Konsonan diikuti huruf ya akan berbunyi kasroh (bunyi i).

h. Konsonan di awal atau di tengah kata tanpa diikuti alif, wau atau ya berbunyi fatah (bunyi a atau e)

i. Konsonan di akhir kata adalah konsonan mati, kecuali diikuti alif, wau atau ya.

j. Huruf ain digunakan sebagai penanda huruf k seperti pada kata rakyat رعيت [5]

b) Bentuk-bentuk penyimpangan

Dari data data yang kami temukan bahwa sebagian huruf arab melayu dan pegon banyak melakukan penyimpangan dari huruf arab melayu yang aslinya. Ada pun huiruf arab asli yang dimodifikasi kedalam huruf arab melayu dan pegon ialah

alif ا — ba ب — ta ت — tsa ث — jim ج — ha ح — kho خ
dal د — dza ذ — ro ر — za ز — sin س — syinش — shod ص
dhod ض — tho ط — dlo ظ — ‘ain ع — ghin غ — fa ف — qof ق
kaf ك — lam ل — mim م — nun ن — wau و — Ha ه — ya ي
hamzah ء — lam alif لا

Aksara tambahan yang digunakan adalah:

cha چ (ha bertitik tiga) — nga ڠ (ain bertitik tiga) — pa ف(fa bertitik tiga) ga ك kaf bertitik) — va و (wau bertitik) — nya ن (nun bertitik tiga)

Berbeda dengan huruf Jawi, yang ditulis gundul, pegon hampir selalu dibubuhi tanda vokal. Jika tidak, maka tidak disebut pegon lagi melainkan gundhul. Bahasa Jawa memiliki kosakata vokal aksara swara yang lebih banyak daripada bahasa Melayu sehingga vokal perlu ditulis untuk menghindari kerancuan[6].

Huruf-Huruf Pegon

pegon_swara.jpg

Huruf pegon di Jawa terutama dipergunakan oleh kalangan umat Muslim yang taat, terutama di pesantren-pesantren. Biasanya ini hanya dipergunakan untuk menulis komentar pada Al-Qur’an, tetapi banyak pula naskah-naskah manuskrip cerita yang secara keseluruhan ditulis dalam pegon.

Selain beberapa huruf rekaan dan vokal yang berbeda dengan huruf Arab, beberapa huruf Pegon juga mempunyai cara penulisan yang agak menyimpang dari cara penulisan huruf Arab. Contohnya, huruf ‘wau’ dan ‘ra’ dalam sistem tulisan Arab tidak dapat disambung dari sebelah kiri, pada penulisan huruf Pegon hal ini dapat dimungkinkan. Jadi penulisan kata pupuh atau rawuh Oleh karena itu, Pigeaud (1967: 26) menyatakan bahwa teks-teks Jawa yang ditulis dengan huruf Pegon berkesan ‘menyimpang.’


[4] Ibid.

[6] Ibid

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s