Hacker dan Cracker

Hacker dan Cracker

Sejarah Hacker dan Cracker

Hacker muncul pada awal tahun 1960-an diantara para anggota organisasi mahasiswa Tech Model Railroad Club di Laboratorium Kecerdasan Artifisial Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kelompok mahasiswa tersebut merupakan salah satu perintis perkembangan teknologi komputer dan mereka beroperasi dengan sejumlah komputer mainframe. Kata hacker pertama kali muncul dengan arti positif untuk menyebut seorang anggota yang memiliki keahlian dalam bidang komputer dan mampu membuat program komputer yang lebih baik dari yang telah dirancang bersama. Kemudian pada tahun 1983, analogi hacker semakin berkembang untuk menyebut seseorang yang memiliki obsesi untuk memahami dan menguasai sistem komputer. Pasalnya, pada tahun tersebut untuk pertama kalinya FBI menangkap kelompok kriminal komputer The 414s yang berbasis di Milwaukee AS. 414 merupakan kode area lokal mereka. Kelompok yang kemudian disebut hacker tersebut dinyatakan bersalah atas pembobolan 60 buah komputer, dari komputer milik Pusat Kanker Memorial Sloan-Kettering hingga komputer milik Laboratorium Nasional Los Alamos. Salah seorang dari antara pelaku tersebut mendapatkan kekebalan karena testimonialnya, sedangkan 5 pelaku lainnya mendapatkan hukuman masa percobaan.
Kemudian pada perkembangan selanjutnya muncul kelompok lain yang menyebut-nyebut diri hacker, padahal bukan. Mereka ini (terutama para pria dewasa) yang mendapat kepuasan lewat membobol komputer dan mengakali telepon (phreaking). Hacker sejati menyebut orang-orang ini ‘cracker’ dan tidak suka bergaul dengan mereka. Hacker sejati memandang cracker sebagai orang malas, tidak
bertanggung jawab, dan tidak terlalu cerdas. Hacker sejati tidak setuju jika dikatakan bahwa dengan menerobos keamanan seseorang telah menjadi hacker.
Para hacker mengadakan pertemuan setiap setahun sekali yaitu diadakan setiap pertengahan bulan Juli di Las Vegas. Ajang pertemuan hacker terbesar di dunia tersebut dinamakan Def Con. Acara Def Con tersebut lebih kepada ajang pertukaran informasi dan teknologi yang berkaitan dengan aktivitas hacking.
Pengertian Hacker dan Cracker
1. Hacker
Hacker adalah sebutan untuk mereka yang memberikan sumbangan yang bermanfaat kepada jaringan komputer, membuat program kecil dan membagikannya dengan orang-orang di Internet. Sebagai contoh : digigumi (Grup Digital) adalah sebuah kelompok yang mengkhususkan diri bergerak dalam bidang game dan komputer. Digigumi ini menggunakan teknik teknik hexadecimal untuk mengubah teks yang terdapat di dalam game. Contohnya, game Chrono Trigger berbahasa Inggris dapat diubah menjadi bahasa Indonesia. Oleh karena itu, status Digigumi adalah hacker, namun bukan sebagai perusak. Hacker disini artinya, mencari, mempelajari dan mengubah sesuatu untuk keperluan hobi dan pengembangan dengan mengikuti legalitas yang telah ditentukan oleh developer game. Para hacker biasanya melakukan penyusupan-penyusupan dengan maksud memuaskan pengetahuan dan teknik. Rata – rata perusahaan yang bergerak di dunia jaringan global (internet) juga memiliki hacker. Tugasnya yaitu untuk menjaga jaringan dari kemungkinan perusakan pihak luar “cracker”, menguji jaringan dari kemungkinan lobang yang menjadi peluang para cracker mengobrak – abrik jaringannya, sebagai contoh : perusahaan asuransi dan auditing “Price Waterhouse”. Ia memiliki team hacker yang disebut dengan Tiger Team. Mereka bekerja untuk menguji sistem sekuriti client mereka.
2. Cracker
Cracker adalah sebutan untuk mereka yang masuk ke sistem orang lain dan cracker lebih bersifat destruktif, biasanya di jaringan komputer, mem-bypass password atau lisensi program komputer, secara sengaja melawan keamanan komputer, men-deface (merubah halaman muka web) milik orang lain bahkan hingga men-delete data orang lain, mencuri data dan umumnya melakukan cracking untuk keuntungan sendiri, maksud jahat, atau karena sebab lainnya karena ada tantangan. Beberapa proses pembobolan dilakukan untuk menunjukan kelemahan keamanan sistem.
Hirarki / Tingkatan Hacker
1. Elite
Ciri-ciri : mengerti sistem operasi luar dalam, sanggup mengkonfigurasi & menyambungkan jaringan secara global, melakukan pemrogramman setiap harinya, effisien & trampil, menggunakan pengetahuannya dengan tepat, tidak menghancurkan data-data, dan selalu mengikuti peraturan yang ada. Tingkat Elite ini sering disebut sebagai ‘suhu’.
2. Semi Elite
Ciri-ciri : lebih muda dari golongan elite, mempunyai kemampuan & pengetahuan luas tentang komputer, mengerti tentang sistem operasi (termasuk lubangnya), kemampuan programnya cukup untuk mengubah program eksploit.
3. Developed Kiddie
Ciri-ciri : umurnya masih muda (ABG) & masih sekolah, mereka membaca tentang metoda hacking & caranya di berbagai kesempatan, mencoba berbagai sistem sampai akhirnya berhasil & memproklamirkan kemenangan ke lainnya, umumnya masih menggunakan Grafik User Interface (GUI) & baru belajar basic dari UNIX tanpa mampu menemukan lubang kelemahan baru di sistem operasi.
4. Script Kiddie
Ciri-ciri : seperti developed kiddie dan juga seperti Lamers, mereka hanya mempunyai pengetahuan teknis networking yang sangat minimal, tidak lepas dari GUI, hacking dilakukan menggunakan trojan untuk menakuti & menyusahkan hidup sebagian pengguna Internet.
5. Lamer
Ciri-ciri : tidak mempunyai pengalaman & pengetahuan tapi ingin menjadi hacker sehingga lamer sering disebut sebagai ‘wanna-be’ hacker, penggunaan komputer mereka terutama untuk main game, IRC, tukar menukar software prirate, mencuri kartu kredit, melakukan hacking dengan menggunakan software trojan, nuke & DoS, suka menyombongkan diri melalui IRC channel, dan sebagainya. Karena banyak kekurangannya untuk mencapai elite, dalam perkembangannya mereka hanya akan sampai level developed kiddie atau script kiddie saja.
Cracker tidak mempunyai hirarki khusus karena sifatnya hanya membongkar dan merusak.
Kode Etik Hacker
1. Mampu mengakses komputer tak terbatas dan totalitas.
2. Semua informasi haruslah FREE.
3. Tidak percaya pada otoritas, artinya memperluas desentralisasi.
4. Tidak memakai identitas palsu, seperti nama samaran yang konyol, umur, posisi, dll.
5. Mampu membuat seni keindahan dalam komputer.
6. Komputer dapat mengubah hidup menjadi lebih baik.
7. Pekerjaan yang di lakukan semata-mata demi kebenaran informasi yang harus disebar luaskan.
8. Memegang teguh komitmen tidak membela dominasi ekonomi industri software tertentu.
9. Hacking adalah senjata mayoritas dalam perang melawan pelanggaran batas teknologi komputer.
10. Baik Hacking maupun Phreaking adalah satu-satunya jalan lain untuk menyebarkan informasi pada massa agar tak gagap dalam komputer.
Cracker tidak memiliki kode etik apapun.
Aturan Main Hacker
Gambaran umum aturan main yang perlu di ikuti seorang hacker seperti di jelaskan oleh Scorpio, yaitu:
• Di atas segalanya, hormati pengetahuan & kebebasan informasi.
• Memberitahukan sistem administrator akan adanya pelanggaran keamanan / lubang di keamanan yang anda lihat.
• Jangan mengambil keuntungan yang tidak fair dari hack.
• Tidak mendistribusikan & mengumpulkan software bajakan.
• Tidak pernah mengambil resiko yang bodoh – selalu mengetahui kemampuan sendiri.
• Selalu bersedia untuk secara terbuka / bebas / gratis memberitahukan & mengajarkan berbagai informasi & metoda yang diperoleh.
• Tidak pernah meng-hack sebuah sistem untuk mencuri uang.
• Tidak pernah memberikan akses ke seseorang yang akan membuat kerusakan.
• Tidak pernah secara sengaja menghapus & merusak file di komputer yang dihack.
• Hormati mesin yang di hack, dan memperlakukan dia seperti mesin sendiri.
Hacker sejati akan selalu bertindak berlandaskan kode etik dan aturan main sedang cracker tidak mempunyai kode etik ataupun aturan main karena cracker sifatnya merusak.
Perbedaan Hacker dan Cracker
a. Hacker
1.Mempunyai kemampuan menganalisa kelemahan suatu sistem atau situs. Sebagai contoh : jika seorang hacker mencoba menguji situs Yahoo! dipastikan isi situs tersebut tak akan berantakan dan mengganggu yang lain. Biasanya hacker melaporkan kejadian ini untuk diperbaiki menjadi sempurna.
2.Hacker mempunyai etika serta kreatif dalam merancang suatu program yang berguna bagi siapa saja.
3.Seorang Hacker tidak pelit membagi ilmunya kepada orang-orang yang serius atas nama ilmu pengetahuan dan kebaikan.
b. Cracker
1. Mampu membuat suatu program bagi kepentingan dirinya sendiri dan bersifat destruktif atau merusak dan menjadikannya suatu keuntungan. Sebagia contoh : Virus, Pencurian Kartu Kredit, Kode Warez, Pembobolan Rekening Bank, Pencurian Password E-mail/Web Server.
2. Bisa berdiri sendiri atau berkelompok dalam bertindak.
3. Mempunyai situs atau cenel dalam IRC yang tersembunyi, hanya orang-orang tertentu yang bisa mengaksesnya.
4. Mempunyai IP yang tidak bisa dilacak.
5. Kasus yang paling sering ialah Carding yaitu Pencurian Kartu Kredit, kemudian pembobolan situs dan mengubah segala isinya menjadi berantakan. Sebagai contoh : Yahoo! pernah mengalami kejadian seperti ini sehingga tidak bisa diakses dalam waktu yang lama, kasus clickBCA.com yang paling hangat dibicarakan tahun 2001 lalu.
Dua Jenis Kegiatan Hacking
1. Social Hacking, yang perlu diketahui : informasi tentang system apa yang dipergunakan oleh server, siapa pemilik server, siapa Admin yang mengelola server, koneksi yang dipergunakan jenis apa lalu bagaimana server itu tersambung internet, mempergunakan koneksi siapa lalu informasi apa saja yang disediakan oleh server tersebut, apakah server tersebut juga tersambung dengan LAN di sebuah organisasi dan informasi lainnya
2. Technical Hacking, merupakan tindakan teknis untuk melakukan penyusupan ke dalam system, baik dengan alat bantu (tool) atau dengan mempergunakan fasilitas system itu sendiri yang dipergunakan untuk menyerang kelemahan (lubang keamanan) yang terdapat dalam system atau service. Inti dari kegiatan ini adalah mendapatkan akses penuh kedalam system dengan cara apapun dan bagaimana pun.
Contoh Kasus Hacker
1. Pada tahun 1983, pertama kalinya FBI menangkap kelompok kriminal komputer The 414s(414 merupakan kode area lokal mereka) yang berbasis di Milwaukee AS. Kelompok yang kemudian disebut hacker tersebut melakukan pembobolan 60 buah komputer, dari komputer milik Pusat Kanker Memorial Sloan-Kettering hingga komputer milik Laboratorium Nasional Los Alamos. Salah seorang dari antara pelaku tersebut mendapatkan kekebalan karena testimonialnya, sedangkan 5 pelaku lainnya mendapatkan hukuman masa percobaan.
2. Digigumi (Grup Digital) adalah sebuah kelompok yang mengkhususkan diri bergerak dalam bidang game dan komputer dengan menggunakan teknik teknik hexadecimal untuk mengubah teks yang terdapat di dalam game. Contohnya : game Chrono Trigger berbahasa Inggris dapat diubah menjadi bahasa Indonesia. Oleh karena itu, status Digigumi adalah hacker, namun bukan sebagai perusak.
3. Pada hari Sabtu, 17 April 2004, Dani Firmansyah, konsultan Teknologi Informasi (TI) PT Danareksa di Jakarta berhasil membobol situs milik Komisi Pemilihan Umum (KPU) di http://tnp.kpu.go.id dan mengubah nama-nama partai di dalamnya menjadi nama-nama “unik”, seperti Partai Kolor Ijo, Partai Mbah Jambon, Partai Jambu, dan lain sebagainya. Dani menggunakan teknik SQL Injection(pada dasarnya teknik tersebut adalah dengan cara mengetikkan string atau perintah tertentu di address bar browser) untuk menjebol situs KPU. Kemudian Dani tertangkap pada hari Kamis, 22 April 2004.
Akibat yang Ditimbulakan oleh Hacker dan Cracker
Hacker : membuat teknologi internet semakin maju karena hacker menggunakan keahliannya dalam hal komputer untuk melihat, menemukan dan memperbaiki kelemahan sistem keamanan dalam sebuah sistem komputer ataupun dalam sebuah software, membuat gairah bekerja seorang administrator kembali hidup karena hacker membantu administrator untuk memperkuat jaringan mereka.
Cracker : merusak dan melumpuhkan keseluruhan sistem komputer, sehingga data-data pengguna jaringan rusak, hilang, ataupun berubah.

Hacker dan Cracker

Hacker dan Cracker

Sejarah Hacker dan Cracker

Hacker muncul pada awal tahun 1960-an diantara para anggota organisasi mahasiswa Tech Model Railroad Club di Laboratorium Kecerdasan Artifisial Massachusetts Institute of Technology (MIT). Kelompok mahasiswa tersebut merupakan salah satu perintis perkembangan teknologi komputer dan mereka beroperasi dengan sejumlah komputer mainframe. Kata hacker pertama kali muncul dengan arti positif untuk menyebut seorang anggota yang memiliki keahlian dalam bidang komputer dan mampu membuat program komputer yang lebih baik dari yang telah dirancang bersama. Kemudian pada tahun 1983, analogi hacker semakin berkembang untuk menyebut seseorang yang memiliki obsesi untuk memahami dan menguasai sistem komputer. Pasalnya, pada tahun tersebut untuk pertama kalinya FBI menangkap kelompok kriminal komputer The 414s yang berbasis di Milwaukee AS. 414 merupakan kode area lokal mereka. Kelompok yang kemudian disebut hacker tersebut dinyatakan bersalah atas pembobolan 60 buah komputer, dari komputer milik Pusat Kanker Memorial Sloan-Kettering hingga komputer milik Laboratorium Nasional Los Alamos. Salah seorang dari antara pelaku tersebut mendapatkan kekebalan karena testimonialnya, sedangkan 5 pelaku lainnya mendapatkan hukuman masa percobaan.
Kemudian pada perkembangan selanjutnya muncul kelompok lain yang menyebut-nyebut diri hacker, padahal bukan. Mereka ini (terutama para pria dewasa) yang mendapat kepuasan lewat membobol komputer dan mengakali telepon (phreaking). Hacker sejati menyebut orang-orang ini ‘cracker’ dan tidak suka bergaul dengan mereka. Hacker sejati memandang cracker sebagai orang malas, tidak
bertanggung jawab, dan tidak terlalu cerdas. Hacker sejati tidak setuju jika dikatakan bahwa dengan menerobos keamanan seseorang telah menjadi hacker.
Para hacker mengadakan pertemuan setiap setahun sekali yaitu diadakan setiap pertengahan bulan Juli di Las Vegas. Ajang pertemuan hacker terbesar di dunia tersebut dinamakan Def Con. Acara Def Con tersebut lebih kepada ajang pertukaran informasi dan teknologi yang berkaitan dengan aktivitas hacking.
Pengertian Hacker dan Cracker
1. Hacker
Hacker adalah sebutan untuk mereka yang memberikan sumbangan yang bermanfaat kepada jaringan komputer, membuat program kecil dan membagikannya dengan orang-orang di Internet. Sebagai contoh : digigumi (Grup Digital) adalah sebuah kelompok yang mengkhususkan diri bergerak dalam bidang game dan komputer. Digigumi ini menggunakan teknik teknik hexadecimal untuk mengubah teks yang terdapat di dalam game. Contohnya, game Chrono Trigger berbahasa Inggris dapat diubah menjadi bahasa Indonesia. Oleh karena itu, status Digigumi adalah hacker, namun bukan sebagai perusak. Hacker disini artinya, mencari, mempelajari dan mengubah sesuatu untuk keperluan hobi dan pengembangan dengan mengikuti legalitas yang telah ditentukan oleh developer game. Para hacker biasanya melakukan penyusupan-penyusupan dengan maksud memuaskan pengetahuan dan teknik. Rata – rata perusahaan yang bergerak di dunia jaringan global (internet) juga memiliki hacker. Tugasnya yaitu untuk menjaga jaringan dari kemungkinan perusakan pihak luar “cracker”, menguji jaringan dari kemungkinan lobang yang menjadi peluang para cracker mengobrak – abrik jaringannya, sebagai contoh : perusahaan asuransi dan auditing “Price Waterhouse”. Ia memiliki team hacker yang disebut dengan Tiger Team. Mereka bekerja untuk menguji sistem sekuriti client mereka.
2. Cracker
Cracker adalah sebutan untuk mereka yang masuk ke sistem orang lain dan cracker lebih bersifat destruktif, biasanya di jaringan komputer, mem-bypass password atau lisensi program komputer, secara sengaja melawan keamanan komputer, men-deface (merubah halaman muka web) milik orang lain bahkan hingga men-delete data orang lain, mencuri data dan umumnya melakukan cracking untuk keuntungan sendiri, maksud jahat, atau karena sebab lainnya karena ada tantangan. Beberapa proses pembobolan dilakukan untuk menunjukan kelemahan keamanan sistem.
Hirarki / Tingkatan Hacker
1. Elite
Ciri-ciri : mengerti sistem operasi luar dalam, sanggup mengkonfigurasi & menyambungkan jaringan secara global, melakukan pemrogramman setiap harinya, effisien & trampil, menggunakan pengetahuannya dengan tepat, tidak menghancurkan data-data, dan selalu mengikuti peraturan yang ada. Tingkat Elite ini sering disebut sebagai ‘suhu’.
2. Semi Elite
Ciri-ciri : lebih muda dari golongan elite, mempunyai kemampuan & pengetahuan luas tentang komputer, mengerti tentang sistem operasi (termasuk lubangnya), kemampuan programnya cukup untuk mengubah program eksploit.
3. Developed Kiddie
Ciri-ciri : umurnya masih muda (ABG) & masih sekolah, mereka membaca tentang metoda hacking & caranya di berbagai kesempatan, mencoba berbagai sistem sampai akhirnya berhasil & memproklamirkan kemenangan ke lainnya, umumnya masih menggunakan Grafik User Interface (GUI) & baru belajar basic dari UNIX tanpa mampu menemukan lubang kelemahan baru di sistem operasi.
4. Script Kiddie
Ciri-ciri : seperti developed kiddie dan juga seperti Lamers, mereka hanya mempunyai pengetahuan teknis networking yang sangat minimal, tidak lepas dari GUI, hacking dilakukan menggunakan trojan untuk menakuti & menyusahkan hidup sebagian pengguna Internet.
5. Lamer
Ciri-ciri : tidak mempunyai pengalaman & pengetahuan tapi ingin menjadi hacker sehingga lamer sering disebut sebagai ‘wanna-be’ hacker, penggunaan komputer mereka terutama untuk main game, IRC, tukar menukar software prirate, mencuri kartu kredit, melakukan hacking dengan menggunakan software trojan, nuke & DoS, suka menyombongkan diri melalui IRC channel, dan sebagainya. Karena banyak kekurangannya untuk mencapai elite, dalam perkembangannya mereka hanya akan sampai level developed kiddie atau script kiddie saja.
Cracker tidak mempunyai hirarki khusus karena sifatnya hanya membongkar dan merusak.
Kode Etik Hacker
1. Mampu mengakses komputer tak terbatas dan totalitas.
2. Semua informasi haruslah FREE.
3. Tidak percaya pada otoritas, artinya memperluas desentralisasi.
4. Tidak memakai identitas palsu, seperti nama samaran yang konyol, umur, posisi, dll.
5. Mampu membuat seni keindahan dalam komputer.
6. Komputer dapat mengubah hidup menjadi lebih baik.
7. Pekerjaan yang di lakukan semata-mata demi kebenaran informasi yang harus disebar luaskan.
8. Memegang teguh komitmen tidak membela dominasi ekonomi industri software tertentu.
9. Hacking adalah senjata mayoritas dalam perang melawan pelanggaran batas teknologi komputer.
10. Baik Hacking maupun Phreaking adalah satu-satunya jalan lain untuk menyebarkan informasi pada massa agar tak gagap dalam komputer.
Cracker tidak memiliki kode etik apapun.
Aturan Main Hacker
Gambaran umum aturan main yang perlu di ikuti seorang hacker seperti di jelaskan oleh Scorpio, yaitu:
• Di atas segalanya, hormati pengetahuan & kebebasan informasi.
• Memberitahukan sistem administrator akan adanya pelanggaran keamanan / lubang di keamanan yang anda lihat.
• Jangan mengambil keuntungan yang tidak fair dari hack.
• Tidak mendistribusikan & mengumpulkan software bajakan.
• Tidak pernah mengambil resiko yang bodoh – selalu mengetahui kemampuan sendiri.
• Selalu bersedia untuk secara terbuka / bebas / gratis memberitahukan & mengajarkan berbagai informasi & metoda yang diperoleh.
• Tidak pernah meng-hack sebuah sistem untuk mencuri uang.
• Tidak pernah memberikan akses ke seseorang yang akan membuat kerusakan.
• Tidak pernah secara sengaja menghapus & merusak file di komputer yang dihack.
• Hormati mesin yang di hack, dan memperlakukan dia seperti mesin sendiri.
Hacker sejati akan selalu bertindak berlandaskan kode etik dan aturan main sedang cracker tidak mempunyai kode etik ataupun aturan main karena cracker sifatnya merusak.
Perbedaan Hacker dan Cracker
a. Hacker
1.Mempunyai kemampuan menganalisa kelemahan suatu sistem atau situs. Sebagai contoh : jika seorang hacker mencoba menguji situs Yahoo! dipastikan isi situs tersebut tak akan berantakan dan mengganggu yang lain. Biasanya hacker melaporkan kejadian ini untuk diperbaiki menjadi sempurna.
2.Hacker mempunyai etika serta kreatif dalam merancang suatu program yang berguna bagi siapa saja.
3.Seorang Hacker tidak pelit membagi ilmunya kepada orang-orang yang serius atas nama ilmu pengetahuan dan kebaikan.
b. Cracker
1. Mampu membuat suatu program bagi kepentingan dirinya sendiri dan bersifat destruktif atau merusak dan menjadikannya suatu keuntungan. Sebagia contoh : Virus, Pencurian Kartu Kredit, Kode Warez, Pembobolan Rekening Bank, Pencurian Password E-mail/Web Server.
2. Bisa berdiri sendiri atau berkelompok dalam bertindak.
3. Mempunyai situs atau cenel dalam IRC yang tersembunyi, hanya orang-orang tertentu yang bisa mengaksesnya.
4. Mempunyai IP yang tidak bisa dilacak.
5. Kasus yang paling sering ialah Carding yaitu Pencurian Kartu Kredit, kemudian pembobolan situs dan mengubah segala isinya menjadi berantakan. Sebagai contoh : Yahoo! pernah mengalami kejadian seperti ini sehingga tidak bisa diakses dalam waktu yang lama, kasus clickBCA.com yang paling hangat dibicarakan tahun 2001 lalu.
Dua Jenis Kegiatan Hacking
1. Social Hacking, yang perlu diketahui : informasi tentang system apa yang dipergunakan oleh server, siapa pemilik server, siapa Admin yang mengelola server, koneksi yang dipergunakan jenis apa lalu bagaimana server itu tersambung internet, mempergunakan koneksi siapa lalu informasi apa saja yang disediakan oleh server tersebut, apakah server tersebut juga tersambung dengan LAN di sebuah organisasi dan informasi lainnya
2. Technical Hacking, merupakan tindakan teknis untuk melakukan penyusupan ke dalam system, baik dengan alat bantu (tool) atau dengan mempergunakan fasilitas system itu sendiri yang dipergunakan untuk menyerang kelemahan (lubang keamanan) yang terdapat dalam system atau service. Inti dari kegiatan ini adalah mendapatkan akses penuh kedalam system dengan cara apapun dan bagaimana pun.
Contoh Kasus Hacker
1. Pada tahun 1983, pertama kalinya FBI menangkap kelompok kriminal komputer The 414s(414 merupakan kode area lokal mereka) yang berbasis di Milwaukee AS. Kelompok yang kemudian disebut hacker tersebut melakukan pembobolan 60 buah komputer, dari komputer milik Pusat Kanker Memorial Sloan-Kettering hingga komputer milik Laboratorium Nasional Los Alamos. Salah seorang dari antara pelaku tersebut mendapatkan kekebalan karena testimonialnya, sedangkan 5 pelaku lainnya mendapatkan hukuman masa percobaan.
2. Digigumi (Grup Digital) adalah sebuah kelompok yang mengkhususkan diri bergerak dalam bidang game dan komputer dengan menggunakan teknik teknik hexadecimal untuk mengubah teks yang terdapat di dalam game. Contohnya : game Chrono Trigger berbahasa Inggris dapat diubah menjadi bahasa Indonesia. Oleh karena itu, status Digigumi adalah hacker, namun bukan sebagai perusak.
3. Pada hari Sabtu, 17 April 2004, Dani Firmansyah, konsultan Teknologi Informasi (TI) PT Danareksa di Jakarta berhasil membobol situs milik Komisi Pemilihan Umum (KPU) di http://tnp.kpu.go.id dan mengubah nama-nama partai di dalamnya menjadi nama-nama “unik”, seperti Partai Kolor Ijo, Partai Mbah Jambon, Partai Jambu, dan lain sebagainya. Dani menggunakan teknik SQL Injection(pada dasarnya teknik tersebut adalah dengan cara mengetikkan string atau perintah tertentu di address bar browser) untuk menjebol situs KPU. Kemudian Dani tertangkap pada hari Kamis, 22 April 2004.
Akibat yang Ditimbulakan oleh Hacker dan Cracker
Hacker : membuat teknologi internet semakin maju karena hacker menggunakan keahliannya dalam hal komputer untuk melihat, menemukan dan memperbaiki kelemahan sistem keamanan dalam sebuah sistem komputer ataupun dalam sebuah software, membuat gairah bekerja seorang administrator kembali hidup karena hacker membantu administrator untuk memperkuat jaringan mereka.
Cracker : merusak dan melumpuhkan keseluruhan sistem komputer, sehingga data-data pengguna jaringan rusak, hilang, ataupun berubah.

aksara arab dan jawa

AKSARA ARAB MELAYU DAN JAWA (PEGON)

1. Aksara Arab Melayu

a. Pengertian

Aksara Arab-Melayu ialah sistem huruf Arab yang diubah sesuai dengan sistem bunyi dan tata-bahasa bahasa Melayu dan digunakan untuk menuliskan bahasa Melayu. Karena huruf yang tak ada dalam bahasa Arab ditambahkan sesuai dengan penulisan bahasa Melayu seperti huruf ng, ny, dan p dengan tetap memanfaatkan huruf-huruf Arab. Penataan ejaannya pun disesuaikan dengan tata-bahasa bahasa Melayu.

b. Sejarah awal

Tak diperoleh sejarah yang pasti tentang bila mula-mula aksara Arab-Melayu dipergunakan. Akan tetapi, jelas pada kita aksara ini tercipta setelah terjadi pertembungan dunia Melayu dengan agama Islam. Jika tarikh itu yang dijadikan pedoman, paling tidak aksara Arab-Melayu sudah dipergunakan pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15. Kala itu Kerajaan Malaka diislamkan dengan masuk Islamnya Raja Malaka beliau merupakan raja Kerajaan Melaka pertama yang memeluk agama Islam yaitu sekitar 1400 M. Selepas itu, kesusatraan Melayu-Islam berkembang pesat. Kesusastraan Melayu-Islam itu, kemudian, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di nusantara. Sejak itu pula dunia Melayu selalu disandingkan dengan Islam sehingga yang disebut Melayu apabila memiliki tiga ciri:

(1) berbahasa Melayu,

(2) beradat dan berbudaya melayu, dan

(3) beragama Islam.

Penggunaan aksara Arab-Melayu terus berkembang pesat selama berabad-abad untuk berbagai bidang kehidupan yang menggunakan tulisan, tak semata-mata dalam bidang kesusastraan. Pada 1850 Raja Ali Haji membakukan aturan ejaan aksara Arab-Melayu dalam kitabnya Bustanulkatibin, di samping berisi tata-bahasa bahasa Melayu.

Dalam masyarakat Melayu-Indonesia pemakaian ejaan Arab-Melayu baru terhenti utamanya dalam naskah cetakan sampai awal abad ke-20. Peranannya digantikan oleh ejaan yang menggunakan aksara Latin. Penulisan bahasa Melayu dengan aksara Latin dimulai pada tahun 1901 yaitu ketika Ch. A. van Ophuysen dibantu oleh Engku Nawawi gl. St. Makmur dan M. Taib St. Ibrahim menerbitkan Kitab Logat Melajoe, yang merupakan pedoman ejaan Latin resmi pertama untuk bahasa Melayu di Indonesia.[1]

2. Aksara Arab Pegon

  1. Pengertian

Aksara Arab Pegon adalah huruf Arab atau lebih tepat: Huruf Jawi yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa. Kata Pegon konon berasal dari bahasa Jawa pégo yang berarti menyimpang. Sebab bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu yang tidak lazim[2].

Berbeda dengan huruf Jawi atau melayu, yang ditulis gundul, pegon hampir selalu dibubuhi tanda vokal. Jika tidak, maka tidak disebut pegon lagi melainkan gundhul. Bahasa Jawa memiliki kosakata vokal aksara swara yang lebih banyak daripada bahasa Melayu sehingga vokal perlu ditulis untuk menghindari kerancuan.[3]

  1. Sejarah awal

Sebagaimana yang telah dinyatakan bahwa penciptaan tulisan Pegon pada mulanya memang ditujukan untuk kepentingan penyebaran agama Islam di pulau jawa. Namun seiring dengan perkembangan jaman dan kebutuhan, lambat laun tulisan ini juga dimanfaatkan oleh para santri sebagai sarana penyampaian rasa keindahan. Bahkan kemudian bukan saja para santri di persantrren-pesantren yang menggunakannya melainkan juga masyarakat Jawa (yang telah) Islam pada umumnya.

Dari data yang ada diketahui bahwa tulisan Pegon telah berfungsi sebagai sarana menyampaikan bermacam-macam keperluan seperti menulis: teks keagamaan, teks sastra, surat pribadi maupun resmi, mantra, rajah, obat-obatan, dan lan-lain. Di bawah ini adalah beberapa contoh fungsi tulisan Pegon tersebut.

a) Sarana Penulisan Teks Keagamaan

Tulisan Pegon yang digunakan sebagai alat untuk menyebarkan ajaran Islam masih tetap menerapkan beberapa tanda diakritik dan angka yang dikenal dalam penulisan huruf Arab seperti tasdid dan tanwin, umpamanya kata ‘Allah’ tetap ditulis .

Pada umumnya, teks-teks keagamaan Islam yang ditulis dengan tulisan Pegon ada yang menggunakan aksara Pegon gundhul atau gundhil artinya ditulis tanpa harakat (tanda vokal). Hal seperti ini sangat lazim ditemukan pada teks-teks keagamaan yang terdapat di Banten. Menurut Pigeaud (1967: 25-26), hal itu terjadi karena masyarakat Banten sangat menguasai idiom-idiom Islam, sehingga penulisan teks keagamaan dengan huruf Pegon gundhul tidak menjadi masalah.

b) Sarana Penulisan Teks Sastra

Dalam penulisan teks sastra, kedua puluh huruf Pegon dan enam tanda vokal digunakan sepenuhnya, sedangkan tanda-tanda diakrtik seperti yang digunakan dalam teks-teks keagamaan Islam hanya digunakan untuk kata-kata yang mengacu pada teks Arab. Dalam teks-teks sastra, penyimpangan cara penulisan huruf Arab merupakan hal yang lazim dijumpai.

c) Sarana Menulis Surat

Selain untuk menulis teks bernuansa keagamaan dan sastra, tulisan Pegon juga digunakan untuk sarana komunikasi, berupa surat, baik yang bersifat pribadi maupun dokumen resmi kerajaan. Berikut ini adalah sebuah contoh surat pribadi yang ditulis dengan tulisan Pegon. Sepucuk surat yang ditulis oleh Bagus Ngarpatem pada tanggal 23 Ramadhan 1770.

d) Sarana Penulisan teks mantra, rajah, dan lain-lain

Selain untuk menulis ketiga jenis teks di atas, tulisan Pegon juga berfungsi sebagai sarana menulis teks-teks rajah, mantra, primbon atau obat-obatan.Tulisan Pegon yang digunakan untuk menulis teks mantra biasanya hanya huruf-huruf atau kata-kata tertentu saja seperti: Allah, Muhammad, alif dan lamalif yang ditulis dalam berbagai posisi. Akan tetapi, tulisan Pegon yang digunakan untuk menulis teks-teks primbon dan obat-obatan ditulis dengan kalimat-kalimat panjang sedangkan yang digunakan untuk menulis teks mantra atau rajah, umumnya ditulis dalam bentuk kalimat-kalimat pendek. Di bawah ini adalah beberapa contoh fungsi tulisan Pegon yang digunakan untuk menulis teks rajah dan mantra.[4]

3. Tata Cara Penulisan dan bentuk-bentuk penyimpangan

a) Tata cara penulisan

Sebenarnya cara penulisan arab melayu dan arab pegon tidak jauh berbeda yang hanya membedakan mereka hanyalah pemberian tanda vokal

a. Aksara ditulis secara gundul, sering disebut sebagai Arab Gundul.

b. Huruf alif yang berdiri sendiri berbunyi a atau e.

c. Huruf alif yang diikuti wau berbunyi u atau o.

d. Huruf alif yang diikuti ya berbunyi i atau é.

e. Konsonan diikuti huruf alif akan berbunyi fatah (bunyi a).

f. Konsonan diikuti huruf wau akan berbunyi dhomah (bunyi u).

g. Konsonan diikuti huruf ya akan berbunyi kasroh (bunyi i).

h. Konsonan di awal atau di tengah kata tanpa diikuti alif, wau atau ya berbunyi fatah (bunyi a atau e)

i. Konsonan di akhir kata adalah konsonan mati, kecuali diikuti alif, wau atau ya.

j. Huruf ain digunakan sebagai penanda huruf k seperti pada kata rakyat رعيت [5]

b) Bentuk-bentuk penyimpangan

Dari data data yang kami temukan bahwa sebagian huruf arab melayu dan pegon banyak melakukan penyimpangan dari huruf arab melayu yang aslinya. Ada pun huiruf arab asli yang dimodifikasi kedalam huruf arab melayu dan pegon ialah

alif ا — ba ب — ta ت — tsa ث — jim ج — ha ح — kho خ
dal د — dza ذ — ro ر — za ز — sin س — syinش — shod ص
dhod ض — tho ط — dlo ظ — ‘ain ع — ghin غ — fa ف — qof ق
kaf ك — lam ل — mim م — nun ن — wau و — Ha ه — ya ي
hamzah ء — lam alif لا

Aksara tambahan yang digunakan adalah:

cha چ (ha bertitik tiga) — nga ڠ (ain bertitik tiga) — pa ف(fa bertitik tiga) ga ك kaf bertitik) — va و (wau bertitik) — nya ن (nun bertitik tiga)

Berbeda dengan huruf Jawi, yang ditulis gundul, pegon hampir selalu dibubuhi tanda vokal. Jika tidak, maka tidak disebut pegon lagi melainkan gundhul. Bahasa Jawa memiliki kosakata vokal aksara swara yang lebih banyak daripada bahasa Melayu sehingga vokal perlu ditulis untuk menghindari kerancuan[6].

Huruf-Huruf Pegon

pegon_swara.jpg

Huruf pegon di Jawa terutama dipergunakan oleh kalangan umat Muslim yang taat, terutama di pesantren-pesantren. Biasanya ini hanya dipergunakan untuk menulis komentar pada Al-Qur’an, tetapi banyak pula naskah-naskah manuskrip cerita yang secara keseluruhan ditulis dalam pegon.

Selain beberapa huruf rekaan dan vokal yang berbeda dengan huruf Arab, beberapa huruf Pegon juga mempunyai cara penulisan yang agak menyimpang dari cara penulisan huruf Arab. Contohnya, huruf ‘wau’ dan ‘ra’ dalam sistem tulisan Arab tidak dapat disambung dari sebelah kiri, pada penulisan huruf Pegon hal ini dapat dimungkinkan. Jadi penulisan kata pupuh atau rawuh Oleh karena itu, Pigeaud (1967: 26) menyatakan bahwa teks-teks Jawa yang ditulis dengan huruf Pegon berkesan ‘menyimpang.’


[4] Ibid.

[6] Ibid

istilah dalam filologi

ISTILAH-ISTILAH ASING DALAM DUNIA FILOLOGI

Beberapa istilah asing yang perlu diketahui dalam penelitian filologi ialah :

Ablebsie Salah lihat, silap visual Tidak tepat atau salah melihat huruf-huruf atau kata-kata yang hampir sama bentuknya.

Archetipus Naskah yang sama dengan naskah asli Eksemplar yang pertama-tama bercabang.

Autograph Penulis naskah

Autography Naskah yang ditulis oleh pengarang sendiri. Naskah inilah yang disebut naskah asli dan inilah sebaiknya dipakai sebagai dasar penelitian. Tugas filolog pertama-tama mencari naskah ini.

Codex Unicus Naskah tunggal dari suatu tradisi Hanya terdapat satu-satunya naskah mengenai cerita itu.

Colophon Catatan yang terdapat pada akhir teks, biasanya berisi keterangan mengenai tempat, tanggal, dan penyalin naskah.

Conjectura Dugaan, ajukan

Constitutio textus Usaha perbaikan naskah didasarkan atas tekanan yang berlandaskan hasil penelitian ilmiah. Menetapkan teks itu bagaimana seharusnya.

Corruptela Cacat Bagian naskah yang tidak bisa dipakai lagi, tidak bisa dibaca dan tidak tahu lagi artinya.

Crux Buntuan Bagian cerita yang salah atau tidak bisa dipahami dan tidak pula dapat diketahui bagaimana seharusnya.

Dittografie Rangkap tulis Perangkapan huruf, kata atau angka. Beberapa kata ditulis dua kali.

Emendation Pembetulan Perbaikan berdasarkan pemikiran kita sendiri, tidak berdasarkan naskah lain. Hal ini terjadi, kalau hanya terdapat satu-satunya naskah.

Haplographie Langkau tulis Membuang sebuah kata atau lebih, karena kata yang sama atau rangkaian huruf terdapat dua kali berturut-turut.

Haplologie Susut bunyi Dua suku kata, disebut hanya satu suku kata.

Interpolatio Penambahan kata atau bagian kalimat, karena kekeliruan atau disengaja.

Lacunae Kata yang terlampaui atau bagian kalimat yang kosong.

Recensio Pertimbangan, pensahihan. Mencari sebanyak-banyaknya naskah yang berisi cerita yang sama dan diperbandingkan; setelah itu barulah dilakukan pertinbangan naskah-naskah yang ada itu.

Variant Bacaan yang berbeda dari bacaan yang dipandang mula. Perbedaan yang terdapat pada dua naskah atau lebih dan tidak bisa diketahui bagaimana seharusnya.

Hapax Kekhasan bacaan hanya pada satu tempat saja.

Transmisi teks Proses penurunan (transmision) sebuah teks. Proses penurunan (transmision) sebuah teks dapat dibedakan ke dalam dua cara: (a) Transmisi teks melalui penyalinan; (b) Transmisi teks melalui penyaduran. Transmisi teks melalui penyalinan dalam arti teks sebuah naskah diturunkan ke dalam naskah lainnya dengan cara penulisan kembali teks tanpa merubah bahasa, aksara, dan bentuk teks yang digunakan dalam naskah sebelumnya. Transmisi teks melalui penyaduran dalam arti teks sebuah naskah diturunkan ke dalam naskah lainnya dengan cara penggubahan kembali teks ke dalam bahasa, aksara, dan atau bentuk teks yang berbeda dari naskah sebelumnya.

Sumber Rujukan

1. http://www.istayn.files.wordpress.com

2. http://bujanggamanik.blogsome.com

KAJIAN NASKAH DALAM SASTRA DAN AGAMA

KAJIAN NASKAH DALAM SASTRA DAN AGAMA

1. Kajian Naskah Sebagai Media Sosialisasi

Kajian naskah diindonesia mempunyai suatu daya tarik tersendiri karena dalam naskah tersebut banyak sekali ditemukan hal- hal yang berhubungan dengan karya sastra maupun menyangkut masalah agama. Dindonesia sendiri, kajian naskah memang belum mendapat perhatian hal itu dibuktikan oleh masih bnyaknya naskah-naskah yang belum tersentuh oleh tangan para ahli.

Naskah-naskah lama di Indonesia menyimpan sejumlah informasi masa lampau mengenai berbagai segi kehidupan. Di antara yang belum banyak mendapat sentuhan penelitian adalah naskah-naskah lama penyimpan ajaran agama, khususnya ajar an agama Islam. Naskah-naskah tersebut pada saat ini sedang menunggu perhatian untuk diteliti

Naskah yang ditulis dengan tangan atau bahasa ilmiahnya disebut sebagai manuscrip merupakan suatu sumber yang sangat akurat dan terpercaya dalam menceritakan suatu keadaan yang terjadi pada masa tertentu dan pada daerah tertentu tempat naskah itu ditulis. Naskah kuno merupakan suatu peninggalan budaya nasional yanng beriskan ide, pemikiran, adat istiadat maupun suatu karya sastra yang berasal dari masa lampau yang dituangkan kedalam bentuk tulisan tangan.

Tradisi penulisan berbagai dokumen dan informasi dalam bentuk manuskrip tampaknya pernah terjadi secara besar-besaran di Indonesia pada masa lalu, terutama jika dilihat dari melimpahnya jumlah naskah yang dijumpai sekarang, baik yang ditulis dalam bahasa asing seperti Arab dan Belanda, atau dalam bahasa-bahasa daerah seperti Melayu, Jawa, Sunda, Aceh, Bali, Madura, Batak, dll. Hal tersebut tampaknya mudah dipahami, terutama jika dikaitkan dengan belum dikenalnya alat pencetakan secara luas hingga abad ke-19, khususnya di wilayah Melayu-Nusantara.

Oleh karenanya, tidak mengherankan jika saat ini kita menjumpai bahwa khazanah naskah nusantara hampir tidak terhitung jumlahnya, baik yang berkaitan dengan bidang sastra, filsafat, adat istiadat, dan terutama bidang keagamaan (Islam).

Berdasarkan hasil penelitian menyebutkan bahwa naskah naskah nusantara antara lain tersimpan di Belanda dan di Inggris, selain juga di Malaysia, Afrika Selatan, Sri Lanka, Jerman, Prancis, Rusia, dan di berbagai negeri yang lain. Selain di negara-negara yang sudah diketahui dan dipastikan menyimpan naskah-naskah nusantara tersebut, masih ada lagi beberapa negara yang diasumsikan memiliki koleksi naskah karena pernah mempunyai hubungan sejarah penting dengan Indonesia, seperti Cina, Portugal, India, dan Jepang. Dalam sebuah sumber misalnya, disebutkan bahwa seorang pengembara Cina, I-Tsing, pada tahun 695 M pernah membawa tidak kurang dari 4000 salinan naskah yang diperolehnya ketika selama 4 tahun tinggal di Palembang, Sumatra Selatan.

Pada umunya hal yang menyebabkan terjadi kecenderungan untuk melakukan penyalinan naskah yang dilakukan dengan tujuan untuk menyelamatkan naskah dari kepunahan karenakan faktor usia dan juga untuk komersil. Sering terjadi naskah yang disalin, teksnya sudah rusak sehingga naskah salinan bersifat hipotesis hasil dari rekonstruksi naskah aslinya. Selain itu, penyalin juga merupakan subjek yang kreatif sehingga dapat terjadi penyimpangan dalam teks, adalah perbedaan yang disengaja. Teks salinannya dapat lebih indah dan lebih sesuai dengan selera masyarakat serta kehendak zaman. Kalau begitu, setiap naskah walaupun salinan adalah cerminan zamannya yang patut dinilai tersendiri.

Sebenarnya ada masalah yang lebih serius yang dihadapi oleh para peneliti yaitu masih banyaknya naskah-naskah kuno yang belum terawat dan kebanyakan naskah tersebut barasal dari abad ke 17 dan 18 masehi yang hanya ditulis oleh pengarang dari kertas yang tidak tahan lama. Selain dari faktor fisik juga faktor alam yang kurang mendukung seperti termakan rayap, robek dan juga karena perawatan yang kurang bagus dari sipemilik naskah tersebut

Sebagian orang yang menyimpan naskah kuno hanya mengandalkan perawatan secara apa adanya atau dengan istilah lain perawatan dilakukan secara tradisional. Naskah-naskah tersebut kadang dibiarkan begitu saja terletak dalam gudang yang terhimpit oleh barang yang lebih berat sehingga menyebabkan kertasnya menjadi lapuk, robek, dan akhirnya hilang pula pengetahuan yang tersimpan di dalamnya. Kalaupun ada naskah yang terawat itupun hanya naskah yang dipercaya mengandung kekuatan magis atas gaib.

2. Naskah Islam Dan Sastra Lokal

Sepanjang sejarahnya, terlebih dalam konteks Indonesia, keberadaan naskah-naskah tersebut sama sekali tidak dapat dipisahkan dari tradisi besar Islam yang sejak abad ke-7 sudah mulai merembes masuk ke wilayah Melayu-Nusantara. Dalam hal ini, Islam diyakini membawa tradisi tulis di kalangan masyarakat Melayu-Nusantara, sehingga dalam perkembangannya seperti telah dikemukakan tradisi Islam ini turut mendorong lahirnya sejumlah besar naskah, khususnya naskah-naskah keagamaan.

Teks naskah sastra Islam kebanyakan ditulis dalam bahasa Melayu dan menggunakan huruf Arab Melayu, yang juga disebut huruf Jawi oleh orang jawa. itu, merupakan dokumentasi kehidupan spiritual nenek moyang bangsa Indonesia serta memberikan gambaran yang memadai tentang alam pikiran dan lingkungan hidupnya. Dari pendekatan sosiologi sastra, hal ini merupakan aspek dokumenter sastra. Asumsinya, sastra merupakan cermin dari nilai-nilai budaya yang hidup pada zaman karya itu diciptakan sebagian ahli berpendapat bahwa hal seperti ini merupakan aspek mimesis dalam penciptaan karya sastra. Kenyataan sosial berpengaruh besar dan mengarahkan makna yang terkandung dalam suatu karya sastra.

Suatu karya sastra yang dikenal luas dalam masyarakat berarti pesan moral dalam karya sastra tersebut dipahami dan diterima sebagai bagian dari sistem acuan perilaku warga masyarakat. Hal ini berkaitan dengan fungsi sosial dari karya sastra, yakni permasalahan tentang seberapa jauh nilai-nilai budaya dalam karya sastra berkaitan dengan nilai-nilai budaya yang ada dalam kehidupan sosial suatu masyarakat Hal itu memberikan indikasi bahwa nilai-nilai budaya yang terkandung dalam naskah-naskah sastra Islam banyak diapresiasi oleh khalayak pembacanya dan besar kemungkinannya nilai-nilai budaya yang terkandung dalam naskah tersebut. Hubungan antara karya sastra dengan kenyataan sosial bukanlah hubungan yang searah, sebelah, atau sederhana. Hubungan itu selalu merupakan interaksi yang kompleks dan tak langsung: ditentukan oleh tiga macam saringan kelir atau layar, yakni kelir konvensi bahasa, kelir konvensi sosio-budaya, dan kelir sastra yang menyaring dan menentukan kesan pembaca dan mengarahkan pengamatan dan penafsiran pembaca terhadap kenyataan sosial. Karya sastra dapat membantu manusia dalam menafsirkan kenyataan hidup sehari-hari. Dari aspek inilah, nilai-nilai keagamaan dalam teks sastra Islam dapat berperan menjadi nilai-nilai budaya yang transformatif, yakni nilai-nilai keagamaan itu menjadi kerangka acuan berpikir, bersikap, dan bertindak bagi orang yang membacanya.

Pembuatan naskah-naskah yang ada dinusantara ini mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-16 wsampai pada abad ke-18 masehi, yang menjadi puncaknya ketika di aceh telah menjadi pusat keagamaan dan pusat pembelajaran dan banyak melahirkan ulama-ulama yang meninggalkan karya-karya mereka seperti Hamzah Fansuri, Shamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, dan Abdurrauf Singkel, yang luar biasa produktif dalam menghasilkan naskah, baik untuk kepentingan belajar mengajar maupun untuk kepentingan lainnya.

Tradisi ini kemudian berkembang keberbagai wilayah di indonesia, tidak hanya di aceh tapi juga menyebar keberbagai wilayah di pulau jawa dan sekitarnya. Karena hal tersebut para ahli banya menemukan naskah-naskah yang ada diberbagai wilayah di jawa yang menyimpan berbagai hal baik itu dibidang sastra dan keagamaan serta sejarah, seperti di jawa barat ditemukan naskah tentang babat sunda dan lain-lain.

Dari beberapa telaah awal yang pernah dilakukan, diketahui misalnya adanya sejumlah besar naskah keagamaan di wilayah Buton yang belum terjamah oleh para peneliti, padahal beberapa naskah, misalnya, mengindikasikan adanya keterkaitan dengan warna Islam di wilayah Sumatra. Demikian halnya di Lombok, Nusa Tenggara Barat, di mana kebanyakan naskahnya masih secara tradisional disimpan oleh para Tuan Guru, dan belum bisa diakses oleh khalayak yang lebih luas.

DAFTAR PUSTAKA

1. http://jurnal-humaniora.ugm.ac.id

2. http://naskahkuno.wordpress.com/2007/01/23/khazanah-naskah-naskah-islam-nusantara/

3. http://rezaantonius.multiply.com/journal/item/46

TEORI FILOLOGI

TEORI FILOLOGI

A. TEORI KLASIK (Arketip)

Arketip adalah nenek moyang nakah-naskah yang tersimpan. Dapat dipandang sebagai pembagi persekutuan terbesar dari sumber-sumber terimpan. Arketip membawahi naskah-naskah setradisi.

Hiparketip adalah kepala keluarga naskah-naskah dan membawahi naskah-naskah seversi.Arketip kadang-kadang diberi nama dengan huruf-huruf yunani omega dan hiparketip dinamakan alpha, beta, gamma.

Contoh metode stema yang sederhana tampak pada bagan

Autograf (teks asli yang ditulis oleh pengarang).

Arketip (Omega)

Hiperketip (Alpha) Hiperketip (Beta)

X Y

A B C D

Penjelasan menggambarkan garis keturunan dari atas ke bawah, dari nenek moyang naskah kepada keturunannya.

Bagan tersebut dapat dibalik apabila kita ingin menggambarkan prosedur penanganan naskah dari sejumlah naskah melalui pengelompokan dan perbandingan sampai kepada arketip tersebut.

A B C D

X Y

Arketip

Sudah barang tentu metode skema hanya diterapkan apabila nteks disalin satu demi satu dari atas kebawah penurunan seperti ini disebut vertical (tradisi tertutup). Sedangkan secara horizontal antara beberapa naskah atau terjadi pembauran antara beberapa tradisi naskah, yang disebut kontaminasi

Metode stema tidak bebas dari berbagai masalah dan keberatan sebagai contoh disebutkan beberapa diantaranya sebagai berikut :

  1. metode ini pada dasarnya berdasarkan pilihan antara bacaan yang benar dan yang salah, dalam prakteknya sulit menentukan pilihan itu
  2. pilihan antara dua hiperketip sering juga tidak mungkin karena keduanya dianggap baik
  3. dua anggota dari satu hiperketip mungkin mewakili dialek atau tahap bahasa yang berbeda sehingga penyunting menghadapi pilihan antara stema dan homogenitas dialek atau tahap bahasa
  4. masalah kontamionasi atau pembauran dua tradisi akibat tradisi terbuka
  5. teks asli juga sering dipersoalkan: mungkin tidak pernah ada satu versi asli karena dari permulaan tidak ada variasi teks
  6. hubungan antara tradisi lisan dan tradisi naskah tulisan tangan di Indonesia perlu diperhatikan, mana yang lebih asli dan otentik karena ada interaksi yang kuat antara keduanya

  1. TEORI MODERN ( Transmisi teks)

Transmisi teks yaitu Proses penurunan (transmision) sebuah teks dapat dibedakan ke dalam dua cara:

1. Transmisi teks melalui penyalinan;

Transmisi teks melalui penyalinan dalam arti teks sebuah naskah diturunkan ke dalam naskah lainnya dengan cara penulisan kembali teks tanpa merubah bahasa, aksara, dan bentuk teks yang digunakan dalam naskah sebelumnya

2. Transmisi teks melalui penyaduran.

Transmisi teks melalui penyaduran dalam arti teks sebuah naskah diturunkan ke dalam naskah lainnya dengan cara penggubahan kembali teks ke dalam bahasa, aksara, dan atau bentuk teks yang berbeda dari naskah sebelumnya.

Ada beberapa kemungkinan yang terjadi dalam aktivitas penyalinan sebuah naskah:

1. Penyalin menyalin naskah dengan memperhatikan secara seksama tiap bentuk aksara dalam naskah yang disalinnya. Hal ini dimungkinkan karena, antara lain:

a) Penyalin tidak tahu akan aksara dan/atau bahasa dalam naskah yang disalinnya;

b) Penyalin tahu akan aksara dan/atau bahasa dalam naskah yang disalinnya, tetapi tetap menyalin dengan memperhatikan secara seksama tiap bentuk aksara dalam naskah yang disalinnya demi menjaga kesamaan bentuk aksara yang digunakan.

2. Penyalin menyalin naskah sudah tidak lagi memperhatikan secara seksama tiap bentuk aksara dalam naskah yang disalinnya, tetapi penyalin langsung menyalin naskah dengan memperhatikan tiap kata per kata. Hal ini dimungkinkan karena penyalin tahu akan aksara dan/atau bahasa dalam naskah yang disalinnya. Aktivitas penyalinan seperti ini akan menghasilkan naskah salinan berupa:

a) naskah salinan dengan aksara dan bahasa yang sama,

b) naskah salinan dengan aksara yang berbeda tetapi dengan bahasa yang masih sama. Lebih lanjut bisa dikatakan bahwa aktivitas penyalinan yang menghasilkan naskah salinan dengan aksara yang berbeda tetapi dengan bahasa yang masih sama seperti dalam point (2b) di atas itu sudah termasuk ke dalam transmisi teks melalui penyaduran bukan lagi transmisi teks melalui penyalinan.

DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Nabilah.2001 Naskah,teks dan metode penelitian filologi.kurikulum kajian bahasa san sastra arab.

Baried, Siti baroroh, Dkk.1985 . Pengantar Teori Filologi, Jakarta

http://rezaantonius.multiply.com/journal/item/46

penguin

PENGUIN INDUK YANG PALING SETIA

Kutub selatan adalah nama salah satu dataran yang yang ada didunia ini. Diwilayah ini terkenal dengan sebutan dataran yang sangat dingin dan hanya mengenal dua musim yaitu musim panas dan musim dingin. Musim panas yang hanya berlangsung selama enam bulan dan musim dingin juga berlangsung selama enam bulan juga. Diwilayah ini juga hidup salah satu makhluk yang sangat menakjubkan yang bernama Penguin.

Penguin merupakan salah satu makhluk yang hidup diatas permukaan bumi ini bertempat tinggal didaerah yang dingin seperti Kutub Selatan. Menurut para ahli Penguin merupakan salah satu makhluk yang paling setia dalam merawat anaknya hingga anak tersebut tumbuh besar. Penguin ini tak pernah menelantarkan anaknya sekalipun dalam kondisi yang sangat buruk didaerah Kutub Selatan.

Pada masa berkembang biak, ribuan Penguin dari berbagai penjuru datang dan berkumpul disatu tempat tertentu, untuk melahirkan anak-anak mereka. Dan awal inilah yang menjadi proses awal rasa pengorbanan yang dihadapi Penguin untuk anak-anak mereka.

Pegorbanan Penguin itu dimulai ketika sang betina bertelur. Penguin jantan akan merawat telur tersebut dengan hati-hati menjaga dan menghangatkan telur dengan menggunakan bulu Penguin jantan yang tebal.

Sementara itu Penguin betina akan pergi kelaut untuk berburu mencari makan bagi bayi mereka yang akan lahir. Biasanya, Penguin betina akan pergi berburu selama empat bulan dan pada saat itulah Penguin jantan melaksanakan tuganya. Penguin jantan akan mengerami telur tersebut selama empat bulan terus menerus dengan berdiri tanpa bisa meletakkan telurnya walau hanya untuk sesaat. Mereka tidak bisa pergi berburu dan mereka harus merelakan berat badan mereka menurun hingga mencapai setengah dai berat badan awal.

Selama empat bulan, para Penguin saling merapat untuk memberi kehangatan pada yang lain sambil menunggu saat telur-telur tersebut menetas pada musim semi. Ketika telur-telur tersebut menetas, para Penguin jantan meletakkan mereka diatas kaki ayahnya, agar terhindar dari cuaca dingin. Anak-anak Penguin mendapatkan makanan dari sang ayah yang disimpanya pada tembolok ayah mereka. Padahal penguin jantan pasti sangat lapar, namun mereka tidak tergoda untuk memakan persedian yang mereka simpan ditemboloknya.

Setelah datang Penguin betina dari berburu, Penguin jantan bergegas pergi kelaut untuk berburu. Setelah selesai makan Penguin jantan akan kembali kesarang untuk memberi makan sang anak. Waktu terus bergulir, sang anak telah tumbuh menjadi dewasa yang tangguh dan mereka akan mulai berburu bersama ayah mereka.

Demikianlah kisah mengenai Penguin dalam mengasuh anak mereka. Mulai dari menjaga telur, melindunginya dari suhu yang dingin serta memberi mereka makan yang berada dalam tembolok mereka.

  • Kalender

    • Desember 2016
      S S R K J S M
      « Des    
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      262728293031  
  • Cari